Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen Bag.6

Posted: July 28, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Untuk Akhir Yang Sempurna

Oleh : Yani Supriani dan Mey Liza

Baru jam 8 tapi suasana kelas sudah gaduh. Pak Ginanjar sakit dan kami ditugasi menyelesaikan beberapa soal. Ada yang serius ngerjain, ada yang kerja kelompok alias nyontek ke Ali si juara umum, ada yang cuma ngobrol ga’ puguh. Dari dulu aku tak begitu pandai dalam urusan ngotak-ngatik rumus Fisika. Dari lima soal baru satu yang berhasil ku taklukkan. Payah!

“Udah, Kay?” Tanyaku pada Kay yang duduk di sebelah.
“Emm.” Kay hanya menjawab dengan gumam tak jelas.

Gini nih si Kay kalau sudah serius udah kaya di dunia lain saja.
Tipe pemikir yang serius, cocok sama aku yang super sensi. Makanya tak jarang pemikiran kami selalu sama. Contohnya kemarin sore.
Kemarin di hadapan bekeners yang lain Kay dan aku mengutarakan niat untuk menyudahi amanah kami di Rohis. Harusnya Sabtu-Ahad ini Rohis Muktamar. Tapi semuanya batal. Muktamar diundur hingga Oktober dan itu berarti masa kepengurusan kami yang harusnya sudah berakhir jadi di perpanjang. Alasannya karena ingin menunggu pemilihan Ketua OSIS yang baru. Kata “mereka” setelah tahu siapa yang jadi Ketua OSIS baru Rohis bisa menyusun strategi kedepan. Yah, agar semua berjalan lancar. Begitu.

“Dengan kondisi kita yang sekarang sudah seharusnya untuk segeraMuktamar!” Tegas Kay pada kami.

“Setuju. Kita tahu kan internal Rohis lagi ada masalah. Harusnya kita selesaikan masalah internal baru berfikir masalah eksternal.” Ucapku kemudian.

“Yaa tapi ga’ harus sampai mengundurkan diri seperti ini kan?” Lulu menatap aku dan Kay. Karena memang baru kami berdua yang berniat mundur dari kepengurusan.

“Gua juga ga’ asal mutusin kali. Semuanya sudah dipertimbangkan dengan matang. Dengan kondisi kita yang carut marut begini memperpanjang kepengurusan malah akan menjadi beban. Harusnya kita segera Muktamar. Dengan begitu komposisi yang ada sekarang bisa di rombak total. Juga bisa memasukkan kader-kader baru yang fresh dan berkualitas untuk menempati pos-pos strategis di Rohis. Untuk menjalankan sebuah organisasi tidaklah dibutuhkan terlalu banyak orang. Namun yang dibutuhkan adalah pengurus-pengurus yang kompeten dan berkomitmen.” Kami berenam terdiam mendengarkan penjelasan Kay.

“Sebenarnya aku sempat memikirkan apa yang tadi Kay ucapkan. Kondisi kita yang sudah seperti ini sangat susah kalau mau dipaksakkan hingga Oktober. Tapi menurutku keputusan untuk keluar dari Rohis juga bukan sebuah solusi.” Dengan tenang Eda berpendapat.

“Baiknya kita berfikir lagi tentang Rohis. Terutama lu dan Zahra, Kay. Gua sependapat dengan Eda kayanya keluar dari Rohis bukan sebuah solusi.” Kali ini Isna yang angkat bicara.

“Iya gua dan Zahra tahu maksud kalian. Tapi kita berdua menyatakan diri hendak keluar karena sudah tak lagi merasa punya andil disini. Walau akhir-akhir ini Rohis bermasalah di Infokom sendiri semuanya baik-baik saja. Kami berempat sudah berusaha sekuat tenaga menjalankan amanah ini. Tapi tidak untuk 3 bulan lagi. Kita tidak bisa berjalan dnegan sisa-sisa energi. Percuma kalau mau dipaksakan hasilnyapun tidak akan optimal.” Terdengar getar halus di nada suara Kay. Pasti dia sedang menahan emosi agar tidak sampai meneteskan air mata.

“Daripada ga’ amanah mending pamit baik-baik, betul kan?” Aku meminta persetujuan dari Lulu, Isna, Eda, Sinta dan Tulip. Mereka berlima hanya saling pandang lalu menatap aku dan Kay dengan sorot kebingungan. Aku tahu mereka agak shock mendengar ini, tapi menurut aku dan Kay ini adalah jalan terbaik untuk akhir yang sempurna.

“Ayo semua buruan dikumpulin!” Suara Comit membuyarkan lamunanku.
HAH?! Oh tidak aku belum selesai mengerjakan soal tadi.

“Makanya jangan kebanyakan ngelamun.” Sambil tersenyum iseng Kay meledekku.
“Udah kumpulin aja, paling dapat hukuman ngebersihin kamar mandi lagi. Hahahahaha.” Malah Ketua Infokom Rohis ini mentertawaiku.

“Udah semua?” Comit ketua kelas bertanya.
“Belum, Akh. Nih satu lagi.” Kay menunjuk kearahku.
“Bentar..bentar, lima menit lagi ya.” Tergesa-gesa aku mencoba menjawab sebisanya. Nasib..nasib!

Cerpen ” Anggaplah Ini Cerpen bag.5

Posted: July 19, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Pesimis
Oleh : Mey Liza

Liburan telah usai. Kami kembali ke sekolah, dengan kelas baru dan suasana baru. Begitu juga Rohis yang bersiap mendapat suasana baru di bawah kepengurusan yang baru. Masa amanah kami, yang dikomandoi Revan, telah usai. Saatnya yang baru yang tampil memimpin.

“Kira-kira siapa ya yang cocok ngegantiin Revan?” Tanya Kay pada kami berenam.
“Hazar, Arya, Dida, mmm…siapa lagi ya? Lulu bersuara.

Kami bertujuh (Kay, Lulu, Isna, Sinta, Eda, Tulip, dan aku) sedang berkumpul di rumah Kay. Sore ini kami mencoba ngumpulin seluruh akhwat-akhwat Rohis. Tentu saja mau ngebahas Muktamar Rohis. Yang lain belum nampak ujung jilbabnya, entah mereka memang telat atau sengaja tidak mau datang.

“Huff…kok aku jadi pesimis ya.” Ungkapku pada mereka.
“Aku ga’ yakin tentang nasib Rohis kedepan.” Aku memandang mereka satu persatu.
“Sama, gua juga pesimis.” Isna menatap lurus ke arah lukisan bunga Lili yang tergantung di dinding.
“Ukhti, kita ga’ boleh pesimis gitu geh. Harus optimis. Kita harus yakin Rohis ke depan akan baik-baik saja. Oke?” Sinta mencoba menyemangati kami.

“Iya, kita harus optimis Rohis akan baik-baik saja. Makanya kita harus menyiapkan Muktamar dengan sebaik-baiknya.” Eda tak mau ketinggalan.
“Tapi, jujur nih, dari calon yang ada aku jadi ikit pesimis.” Tulip memandang Eda.

“Hush! Udah ah ga’ boleh under estimate gitu. Kita harus yakin dong dengan calon-calon ketua kedepan. Kita harus yakin kalau mereka mampu berbuat yang terbaik untuk dakwah ini. Iya kan?” Kay meminta persetujuan dari kami.

“Betul apa yang di katakan oleh Kay, toh kepengurusan ke depan kan bukan kepengurusan personal alias sendiri-sendiri. Ini amal jama’i ukh.” Lulu memegang pundakku dan pundak Isna.

Apa iya semua yang di katakan oleh Kay dan Lulu itu? Aku masih tetap pesimis. Aku…aku ga’ yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Astaghfirullah, cepat-cepat aku beristighfar. Apaan aku ini. Sekarang bukan saatnya menilai mampu atau tidaknya calon ketua ke depan membuat Rohis bangkit lagi. Tapi sekarang saatnya untuk memulai kebangkitan itu. Benar, harus yakin pada kekuatan kami semua karena kami tak pernah sendiri. Ada Dia yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Apapun masih bisa terjadi, apapun itu.
Jadi harus tetap semangat, ganbatte!!

Dialog 5 Ketua

Posted: July 16, 2010 by meyzahra in Cuap-Cuap Pengurus, Humas-Eksis

Posted by Lala Anyer :

Ketua I : Bagaimana kalo kita kumpul n mempersiapkan LPJ dept kita untuk dilaporkan pd Musda?yaa kira2 hr rabu jam 2an getoo di markas

Ketua II : Afwan ga bisa

Ketua III: Ga bisa

Ketua I : Terus, bisanya kapan? kasih masukan waktu???

Ketua II : Lagi banyak urusan niih, langsung ditentuin aja sihh..

Ketua III : Pekan ini banyak agenda rapat

Ketua IV: (SILENT)

Ketua I: T_T

Saya kira, Departemen kita akan menjadi bagian dari urusan kalian yang banyak   itu…, saya kira, Departemen kita akan menjadi bagian dari agenda rapat kalian yang bejibun itu
Tapi…
Afwan…

Posted by Fathira Zesty :

Ketua V : Eh kiblat kita ternyata salah ya

Ketua I : Emang iya?

Ketua IV : Iya, kata MUI. Harusnya agak ke barat daya dikit

Ketua II :Mmm.. barat daya tuh sebelah kanan apa kirinya barat ya?

Ketua III : Entahlah, liat aja tar sore pas matahari terbenam ‘coz itulah kiblat kita

Ketua I, II, IV : Oh begitu (sambil manggut-manggut)

Ketua V : Yang lucunya ternyata kiblat kita tuh sebelumnya agak ngadep Afrika gitu deh

Ketua II : Wah pantesan kalau sholat ane keinget piala dunia mulu

Ketua I, III, IV, V : wakkkakkk

Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen bag.4

Posted: June 25, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Who The Next?

Oleh : Mey Liza

15 menit lagi tepat jam 4 sore. Sekre Rohis masih sepi padahal rapat koordinasi kominfo (Komunikasi dan Informasi) Rohis se-Serang harusnya sudah mulai dari jam 15.30 tadi. Hanya ada aku dan Kay. Keane dan Kyo ga’ bisa datang. Keane sibuk dikejar deadline ‘Popular’. Kyo ada acara kelas.

Kami berempat ada di Divisi Kominfo (Komunikasi dan Informasi), Kay yang jadi ketua dan kami bertiga jadi staf. Tadinya Keane yang jadi ketua kominfo. Itu sebelum dia jadi pimred ‘Popular’ dan jadi sesibuk ini. ‘Popular’ itu koran sekolah kami, tapi bukan yang daily melainkan weekly. Makin hari kesibukan Keane makin menjadi di ‘Popular’. Dan, rasanya, makin jauh saja dengan Rohis. Well, kurasa Keane sudah menemukan jalannya. Berkat ‘Popular’ dia sudah punya bangku kosong di Fikom (Fakultas Komunikasi) U-Ban. U-Ban, Universitas Banten, adalah kampus tertua di bumi para jawara ini.

Keane, namanya rada bule ya? Emang Keane tuh ada keturunan Slovenia lagi.

“Sedih ya, Ke, jagoan kamu kalah.” Tanyaku pada Keane beberapa hari yang lalu
“Jagoan?” Keane menatapku heran.
“Iya, Slovenia kan semalem kalah sama Inggris.”
“Oh, piala dunia.”
“Ga’ ngikutin, Ra.” Keane berlalu begitu saja.

Dasar Keane dari dulu ga’ suka bola. Sampai negeri leluhurnya tandingpun dia ga’ ngebela.

“Uhh…lama!” Kay mulai resah.
“Telpon gih, Ra. Lama banget sih!”
“Sabar buk, kan baru 5 menit lalu mereka sms bilang otw kesini.” Aku coba menenangkan Kay
“Udah deh gw ke gerbang, tar pada nyasar lagi.” Dengan langkah cepat Kay berlalu.

Hehehe, Kay memang begitu. Rada kurang sabaran orangnya. Tapiiii Kay itu orangnya super baik. Setia kawan banget. Pinter lagi. Tegas, terkadang serius tapi down to earth.
Pernah sekali kami berdua jadi guide anak-anak kelas IX ke pameran buku. Namanya anak-anak baru pasti pada lugu kan. Itu bocah-bocah polos banget di tengah jalan takjub sama gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Sampe aku risih dengan penumpang-penumpang lain di busway yang memandang adik-adik kelas itu dengan pandangan merendahkan. Tapi Kay nyantai aja. Bukannya meminta mereka diam *seperti yang kulakukan* Kay malah memberitahu mereka nama setiap gedung terkenal yang kami lewati.

“Ini bundaran HI, yang tempat demo itu.”
“Ini gedung DPR.”
“Ini…”

Dasar Kay!!

Satu lagi yang jadi staf di Kominfo, Kyo. Namanya sih Bian tapi aku lebih suka memanggilnya Kyo. Ingat dunk sama tokoh bad-boy di manga ‘Fruits Basket’? Siapa lagi kalau bukan Kyo Soma yang berambut orange itu. Kyo,eh maksudku Bian, orangnya agak temperamental. Maklumlah dari Sumatra ^_^. Gaya bicaranya yang meledak-ledak mirip sama Kyo Soma. Seperti yang kubilang tadi rada temperamental gitu deh. Walau gitu hatinya baek banget. Pernah aku lihat dia beli batagor buat di kasih ke kucing yang kelaparan di halte depan sekolah. Hehehehe rada aneh ya ni bocah.

Diantara kami berempat cuma Bian yang masih kelas XI. Dia adik kelas kami tapi keahlian design grafisnya membuat Keane kepincut untuk menjadikannya staf di Kominfo.
Harusnya, sih, nanti Bian yang jadi ketua kominfo ngegantiin Kay. Tapi dia ga’ mau gantiin Kay.

“Sibuk, Teh.” Itu alasannya.
“Kalau cuma jadi staf insya Allah ane masih siap.”

Yah Bian! Terus siapa dunk yang nanti ngegantiin Kay jadi Ketua Divisi Kominfo?

(images from zimbio.com)

Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen bag.3

Posted: June 19, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Kok Baru Sekarang?
Oleh : Mey Liza

Hujan. Aku dan Kay yang baru pulang dari syuro Rohis berteduh di warung bakso. Menunggu hujan reda sekalian mengisi perut yang mulai keroncongan. Revolino S Temot terparkir diluar, kehujanan (Revolino nama motor birunya Kay).

Setelah memesan dua mangkuk mie ayam bakso kami duduk di meja panjang di tengah warung bakso. Tempat duduk kami langsung menghadap ke tivi yang sedang menyiarkan pertandingan antara Jerman melawan Serbia. Sayang kali ini Jerman tak seberuntung seperti di laga awal, Klose cs menderita kekalahan 0-1 dari Serbia. Bahkan, yang lebih malang, Klose mendapat hadiah kartu merah.

“Tadi beda ya suasana rapatnya.” Sambil lurus menatap layar tivi Kay berucap padaku.
“He-eh, lebih kerasa ukhuwahnya.” Jawabku.
“Beda dengan rapat-rapat kita sebelumnya, hari ini kerasa enak banget.” Kali ini Kay menatapku.
“Apa karena sebentar lagi pengurus mau udahan ya?” Kay menambahkan.
“Mungkin,” jawabku sambil mengaduk teh botol.
“Mungkin karena kita ngerasa udah mau selesai makanya sekarang lebih ngedepanin kepentingan orang lain ketimbang ego sendiri.” Aku mengalihkan pandangan ke luar, ke rinai hujan.
“Biasanya kan kalau ada acara Rohis semua pengen ngedepanin idenya sendiri.” Aku masih menatap hujan yang mulai berganti jadi untaian jarum air kecil-kecil.

“Entahlah, yang pasti hari ini suasananya indah.” Kay ikutan menatap rinai hujan.
“Pengen, deh, kita selalu kompak kaya gini.” Senyum Kay terkembang.

Aku hanya menjawab dengan anggukan.
Entah apa yang akan terjadi dua bulan kedepan. Yang pasti sebelum saat perpisahan itu tiba aku ingin mengisi hari-hari akhir dengan menunaikan amanah sebaik-baiknya. Apapun yang telah terjadi di masa yang telah lewat, biarlah jadi sebuah pengalaman berharga untuk perjalanan kami ke depan.
Dan, siapapun yang nantinya akan dibebani amanah di Rohis insya Allah adalah yang terbaik.

Yaa Rabb ridhoi langkah kami. Semoga kami istiqomah di jalan ini, hanya mencari ridho-Mu. Bukan jabatan bukan pula kesombongan. Hanya mencari ridho-Mu semata.

(images from zimbio.com)

Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen bag.2

Posted: June 14, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

SMS Teror

Oleh : Mey Liza

Kulirik jam yang tergantung di dinding sekre Rohis. Sudah lima belas menit berlalu sejak Eci memulai ceritanya pada kami, Bekeners.

“Gitu ceritanya, terus ana musti gimana?” Eci mengedarkan pandangan pada kami meminta jawaban.

“Mmm….,” Kay mulai membuka suara.
“Baiknya sih kita tabayun dulu sama mereka. Ya kan?” Kay meminta persetujuan dari kami.
Tak ada yang bersuara hanya dijawab dengan anggukan dariku, Lila, Isna, Tulip, Eda, dan Sinta.

Eci, akhwat yang baru semester ini bergabung di Rohis. Eci dan beberapa kawannya membuat semacam tempat bimbel gitu. Mereka cuma pengelola, bukan yang mengajar. Keren ya, kecil-kecil otak bisnis mereka udah tokcer. Menurut pengakuannya tadi banyak siswa-siswa sekolah kami yang mendaftar. Bagus bukan?
Masalahnya banyak pula yang cuma main-main. Kan nomor hape Eci yang di cantumin di pamflet, nah dari situ banyak deh yang suka iseng pura-pura daftar eh tahunya cuma mainin Eci doang.
Dan, fakta yang bikin miris, sebagian besar yang sms iseng itu adalah ikhwan-ikhwan pengurus Rohis!!

“APAH?!!” Itu reaksi kami tadi saat Eci curhat.
Sebel banget kan. Pengen sih ngajakin Lila yang jago taekwondo buat ngehajar mereka satu persatu. Biar kapok semuanya.

Sejujurnya kami ga’ tahu musti berbuat apa. Karena pada dasarnya ikhwan-ikhwan jahil yang iseng itu *dan-yang-tak-perlu-ku-sebut-nama-nya-itu* sudah tahu kalau perilaku-perilaku tak sopan seperti ini bukanlah perbuatan baik dan pantas untuk dilakukan. Jadi mereka bukan orang bodoh yang ga’ ngerti apapun, yang harus dikasih tahu satu persatu mana hal yang baik dan mana hal yang buruk.

“Gini aja, Ci, mending sekarang lu balik deh biar kita-kita yang nyelesain masalah ini.” Isna memecah keheningan.

“Bener, Ukh, langkah pertama kita mau kasih tahu Pak Ridwan dulu. Biar Pak Ridwan dan ikhwan yang lain yang tabayun ke mereka yang ngerjain kamu itu.” Eda menambahkan.
Pak Ridwan guru Kimia di sekolah kami yang juga adalah Pembina Rohis.

“Iya, ana rasa segitu udah bagus. Syukron ukh bantuannya. Ana cuma pingin masalah ini kelar dan ga’ ada lagi ikhwn-ikhwan iseng di Rohis kita.”

“Sepakataaaaaaaaaat!!” Sinta dan Tulip berteriak serempak.

Setelah cipika-cipiki dan mengucap salam Eci pamit.

Belum lagi persoalan internal kelar, muncul lagi masalah-masalah ga’ penting kaya ini. Bikin puyeng aja.
“Yuk ke rumah Pak Ridwan.” Ajak Kay.
“Eh-eh, lu pada aja ya. Gua mau pulang ngerjain pe-er.” Sambil nyengir Isna meminta ijin pada kami.
“Iya..iya tahu, karena tar malem mau nonton bola kan?” Aku menatap Isna.

“Hehehe..pinter. Iya nih tar sore Belanda lawan Denmark, sayang banget dilewatin!”

“Dasar maniak bola!!” Berbarengan tangan kami mencoba meraih kepala Isna buat dijitak.
Untung cuma satu yang model begini, bisa berabe kalau semua Bekeners maniak bola. Yah namanya hobi, setiap orang punya kecendrungan masing-masing yang berbeda.
Luv u all gals. Tetap ingin bersahabat dengan kalian, selalu, walau kita banyak perbedaan.

Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen bag.1

Posted: June 14, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Bekeners

oleh : Mey Liza

Hai everybody, annyong haseo ^_^
Kenalin aku Zahra, mau dipanggil Mei juga boleh. Eh, karena ini cerpen (atau anggaplah begitu) panggil saja aku Zahra ya.

Aku punya teman (aku punya teman…gaya nyanyinya Duo Maia ^_^), ada Kay, Lila, Isna, Sinta, dan Eda (hehehehehe rada mirip nama siapa gitu ya..hehehehehe).
Kami satu genk di sekolah, nama genk kami genk beken. Enak sih punya genk di sekolah, tapi kadang di cemburuin juga sama anak-anak yang lain. Dianggap kami ini tidak membaur lah, kurang sosialisasi dengan yang lain lah, sombong lah. Yah namanya juga pendapat orang, pasti macem-macem.

Kami, sih, enjoy aja. Whateverlah dengan orang lain, asal kami ga’ ngerugiin orang lain kenapa juga harus peduli apa yang orang katakan pada kami. Dan yang pasti, prestasi kudu tetep dijaga.

Bekeners pada ikutan rohis di sekolah. Makanya kami cantik-cantik karena rapih dengan kerudung yang nutup aurat. Kay yang awalan ikut Rohis. Terus kami ikutan juga deh. Makanya Kay tuh jadi kakak tertua kami. Kalu ngumpul-ngumpul pasti di rumah Kay.

Seperti malam ini, kami mau pajamas party di rumah Kay. Lila yang ngusulin gitu.

“Tar malem mabit yuk di rumah Kay,” usul Lila pagi ini.
Mabit tuh istilah pajamas party-nya anak Rohis.

“Oke. Tar aku yang hubungin Kay, kamu yang ngehubungin yang lain ya.” Aku berkata pada Lila. Pagi ini Lila nganterin aku pake si-Revi (nama motor Lila) ke daerah Pasar Lama. Di tengah jalan kami sambil ngobrol. Lila cerita panjang lebar soal permasalahan internal yang sekarang lagi diributin di Rohis.

“Kita ga’ pengen kan Rohis hancur gitu aja karena masalah ini?”

Aku hanya mengangguk menjawab perkataan Lila.

“Makanya kita harus segera bertindak, yang salah harus bertanggung jawab. Kita mainkan aturan yang ada.”
Kulihat kesungguhan di mata Lila. Iya, akupun sepakat. Kakak-kakak kelas 12 sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Tentu saja urusan kuliah mereka. Ga’ mungkin bisa ngarepin mereka mau ngurusin masalah Rohis. Jadi kamilah yang harus maju jadi garda terdepan untuk membereskan ini. Atau minimal, mikirin masalah ini.

****

Sudah sore, tidak lama lagi aku akan ketemu Kay, Lila, Isna, Eda dan Sinta. Ku tatap foto kami berenam yang tergantung di dinding

eh kok malah foto itu? Bukan, bukan yang itu geh.
Tapi yang ini
Hmm…ada tujuh sih. Satu lagi gambarnya Tulip, yang sekarang sudah jarang gabung dengan Bekeners.

Yuk ah babai, luph yu all gals ^_^

Distorsi Demokrasi

Posted: March 11, 2010 by kammibanten in Sekum's Note

DISTORSI DEMOKRASI: DINAMIKA POLITIK INDONESIA

Yuda al Durra*

Indonesia dapat dikatakan dan menamakan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi. Tetapi tidaklah berarti bahwa pemerintahan dijamin oleh rakyat dan untuk rakyat, dan bisa disebut bahwa kita tidak benar negara demokratis jika dilihat realitas bukan pidato dan formalitas belaka. Sebab dalam sistem demokrasi kitalah semua rakyat Indonesia yang menentukan akan dibawa kemana negeri ini. Ternyata itu menjadi sorotan utama dan dinamika peta politik Indonesia saat ini. Pertaruhan demokrasi yang memang benar-benar menajdi titik tolak kemajuan bangsa kita ini.

Sejarah demokrasi Indonesia adalah sejarah panjang. Seluruh pergulatan dan pergelutan dalam kehidupan bangsa kita ini dapat dipandang sebagai usaha bangsa untuk mencari bentuk demokrasi yang sesuai dengan sistem sosial serta sistem nilai kita. Semenjak para perintis kebangsaan dan kemerdekaan meniupkan nafas kebangkitan bangsa, kemudian mengobarkan semangat nasionalisme Indonesia, dan akhirnya memproklamasikan Indonesia sebagai suatu negara merdeka, pada dasarnya yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia ialah mencari suatu bentuk kehidupan bersama yang bersifat demokratis.

Sejarah ini dapat kita jadikan sebagai modal utama untuk meyakinkan bahwa demokrasi memang sudah seharusnya dilakukan dengan sebenar-benarnya. Bukan demokrasi setengah hati atau asal-asalan yang hanya mementingkan kepentingan individu.

Demokrasi di Indonesia juga semakin diyakini akan mewujud dengan ditandai hadirnya mekanisme multi partai, kebebasan mengemukakan pendapat secara terbuka, kemerdekaan pers dengan menjamurnya penerbitan. Bahkan dengan berlangsungnya prosesi suksesi kepemimpinan nasional yang berjalan relatif lancar pada 1999, 2004 dan 2009 lalu. Transisi demokrasi, jika mengikuti tipologi Huntington, terbagi pada tiga pola antara lain; transformasi (transformation), pergantian (replacement), negosiasi (transplacement), dan intervensi (intervene). Untuk konteks Indonesia, transisi demokrasi yang digunakan adalah pola penggantian walaupun tidak dipungkiri juga ada warna intervensi dari komunitas internasional.

Sehingga tidak ada lagi perbedaan yang mencolok antara rakyat ideal dengan kenyataan yang bobrok. Terlalu jauh dan teramat jauh jaraknya. Rentang jarak inilah yang menjadi masalah kita bersama dan sepanjang itu pulalah kita harus bekerja. Jadi sebelum menjadi pemimpin.

Sampai saat ini pemerintah seakan-akan yang dijalankan dengan cara memanipulasi fakta dan realitas diri dan keadaan akan gagal. Kasus Bank Century, kasus Antasari, kasus Bibit dan Chandra yang dinilai sedikit banyaknya mengandung unsur rekayasa oleh pihak tertentu ternyata gagal mengelabui mata dan hati rakyat. Bahkan ada anggota pansus saling serang sedangkan saat itu menjadi tontonan publik. Kemudian belum lagi banyak terjadi pelanggaran ketika pilkada-pilkada serentak di berbagai kota ataupun kabupaten di seluruh Indonesia. Tetapi yang terjadi ialah maraknya penyimpangan-penyimpangan memenangkan hanya untuk kekuasaan semata. Dan mungkin kemudian mendirikan kerajaan baru dalam dinastinya. Dengan ketika memimpin hanya yang termasuk dalam garis keturunannya yang boleh menjabat pada tataran pemerintahan di daerah yang telah dikuasai.

Distorsi Demokrasi

We’ll give you our votes, but what do we get in return (kami akan memberikan suara kami untukmu, tapi apa yang kami dapatkan sebagai imbalannya). Politik uang (money politics) memang tampaknya sudah menjadi aturan main Pemilu 2009 untuk melenggangkan semuanya, jauh lebih buruk dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya pada era demokrasi ini. Satu dekade reformasi politik ini seakan-akan justru membuat negeri ini terjerumus dan terjerembab ke dalam praktik demokrasi transaksional yang amat buruk. Pada tataran akar rumput (tingkat daerah), sebagian pemilih mengharapkan imbalan dari suara yang mereka berikan kepada partai politik atau individu caleg pada pemilu legislatif ini. Sebaliknya, elite partai atau sebagian caleg juga mempraktikkan politik bagi-bagi uang, barang, atau bahkan bahan-bahan pokok. Sementara itu, pada tataran elite politik yang lebih tinggi, bukan program atau platform partai yang mereka tawarkan, melainkan sibuk dengan politik dagang sapi, untuk membangun koalisi politik.

Pilkada yang akan digelar di 244 daerah pada 2010 dinilai rawan korupsi, penyimpangan dan penyalahgunaan oleh sebagian kalangan terutama KPK. Temuan Bawaslu di beberapa daerah, rumah dinas digunakan untuk rapat-rapat terkait pilkada. Anggota DPRD rapat-rapat tentang pilkada di ruang kerja dan rumah dinas yang jelas-jelas saya mengatakan dengan tegas itukan milik negara! Potensi penyimpangan berupa legalitas dana, politik uang dan penggunaan dana APBD oleh calon incumbent dalam bentuk program-program populis rentan juga dengan korupsi. Belum lagi kekacauan DPT juga menjadi masalah.

Hal ini menyadarkan kita semua bahwa sesungguhnya distorsi itu memang benar-benar terjadi. Kita gagal memilih elit-elit yang benar-beanr reformis. Dan jika kita jatuh pada lubang yang sama, maka akan ada ancaman yang lebih serius bagi kebangsaan reformasi. Sebab, ibarat pertempuran antara virus dan obat anti biotik, ternyata virus-virus yang tersisa dari rezim-rezim terdahulu telah mampu bermetamorfose secara sempurna di era reformasi. Bukan hanya itu, mereka telah memperbaharui kekebalan tubuhnya bahkan beranak pinak.

Jika kekuatan-kekuatan lama kembali berkuasa dengan wajah barunya di pemerintahan, maka orang akan mempertanyakan efektivitas sistem demokrasi yang kosntitusional sebagai sebauh metode perubahan. Kajian dan pengalaman pergerakan Mahasiswa belakangan ini memang mengatakan bahwa sistem demokrasi yang mengatakan bahwa demokrasi yang konstitisional adalah pilihan yang paling baik dalam perubahan. Ia lebih legitimate, legal dan damai. Ongkos sosialnya murah dan karenanya tak perlu ada luka sosial yang akut pula. Ia bertahap dan karenanya lebih terjamin berkesinambungan. Tetapi eksperimentasi di Indonesia sungguh-sungguh akan sangat menentukan evaluasi terhadpa pilihan cara ini.

Sebab Indonesia yang memiliki sejarah panjang perubahan kultural dan damai. Indonesia yang memiliki kemajemukan masyarakat yang paling kompleks, ditambah keluasan wilayahnya yang berbentuk perairan dan penduduknya yang teramat padat.

Distorsi demokrasi memang tidak akan terjadi ketika rakyat dan pemimpin bersatu dalam ideologi dan kebebasan berpikir dan berkehandak. Tidak ada lagi praktek-praktek haram yang melegalkan demokrasi seolah-olah dari rakyat. Tapi rakyat yang mana?? mungkin rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya dijadikan umpan untuk melegalkan kepentingan elit.

Saat ini demokrasi memang bukan sistem politik yang sempurna. Melalui demokrasi, secara teratur dan damai pada kurun waktu tertentu, rakyat dapat ikut berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang akan menjadi wakil mereka di lembaga- lembaga legislatif dan pimpinan eksekutif. Pilihan itu didasari pada pertimbangan rasional, bukan emosional ataupun irasional. Pilihan partai sepatutnya didasari pada program/platform partai itu yang akan membawa mereka pada situasi yang lebih baik. Brahmana kumaris ishawariya vishwa vidyalaya atau seorang intelektual yang menjaga perilakunya dari kerusakan moral. Kita berharap kepada pemimpin yang memililiki kepekaan terhadap rakyatnya dan bisa menakar intelektual dari pada mempertontonkan moral dan perilaku buruknya apalagi ketika rapat anggota dewan. Kembalikan demokrasi kepada rakyat. Evaluasi menyeluruh untuk sistem ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk membuat demokrasi sebagai alat kita untuk bangsa ini kembalikan dengan makna yang utama dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Merdeka!

Sekjend KAMMI Banten 2008-2010

29 Minoritas

Posted: March 6, 2010 by kammibanten in Celoteh Humas

Rabu (3/3) teman-temanku di KAMMI Banten berangkat aksi ke DPR mengawal grand final pansus Century. Oughh..sedih tak bisa ikutan (hiks!).  Tinggal kebagian ceritanya doang. Kamis aku ke kampus, beuh, tuh anak-anak langsung aja mberondong nuturin kisah heroik mereka.

“Teh, kemarin kita tuh ga’ ada kekolotnya. Seangkatan kita aja,” curhat mereka padaku.
Jadi ceritanya aksi Rabu silam itu yang ikutan rata-rata akhwat-akhwat baru (semester 2 & 4). Dan, tak ada satupun akhwat kamda yang ikutan ^^. Ada, satu-dua orang saja yang sudah semester 8 namun sisanya ya akhwat-akhwat baru tadi.

“Pas ditanya, “akhwat siapa korlapnya?” duh kita diem aja. Ga ngerti.” Tambah mereka padaku.
Duh, ukhti, adik-adikku, kasian sekali. Persis anak ayam kehilangan induknya.

“Makanya ba’da rehat sholat Dzuhur kita ga’ di bolehin sama ikhwan ikutan aksi lagi. Kita diem, teh, di masjid. Terus di kasih uang jajan gitu deh.”
Whatz!! Uang jajan?!

“Iya, disuruh diem aja di masjid terus dikasih uang buat jajan. Padahal kita pada mau ikutan aksi lagi.” Umun yang bercerita padaku dengan antusias sore itu.
“Kan udah chaos tuh, teh, makanya kita ga’ boleh kesana lagi.” Tambahnya.

Dari cerita mereka aku tahu bahwa yang ikutan aksi kesana ada 29 orang (akhwat). 2 dari Untirta Serang, 1 dari UNMA dan sisanya IAIN (kalau ga’ salah sih gitu komposisinya, bangga yeuh mentee-mentee urang ^^). Padahal info yang kuterima akhwat ga’ diajak aksi. Eh, pas lihat di tivi kok ya ada akhwatnya? Entah bagaimana ceritanya padahal kesepakatan awal ga’ ajak akhwat, tetep aja ada yang ikut (mantab!).

Ternyata yang ikutan aksi cuma akhwat Banten doang. Dari Pusat, Kamja, dan Bandung akhwatnya pada ga’ ikutan. Lagian, menurut cerita mereka, saat mereka aksi (berbaris di belakang ikhwan) ada sekelompok preman (berbaju hitam dan berwajah papua) yang mengawasi mereka.
“Kita maju, mereka ikutan maju. Kita mundur, mereka juga ikutan. Ih, ngeri, teh.” Tambah mereka lagi.
Wei,  jawara ga’ cuma di Banten ya. Alhamdulillah mereka semua baik-baik saja.
“Ngeri sih, tapi pengen lagi!” Kata mereka dengan wajah berbinar. Mulai nih mereka kecanduan demo, hehe. (Mey-Humas)

KAMMI Aksi Lagi

Posted: March 3, 2010 by kammibanten in Celoteh Humas

KAMMI Aksi Lagi

oleh : Mey Liza (Humas)

“Wajib mengikuti aksi KAMMI 2 Maret ’10, kmpul d Sari Asih jam 7 pg. Bwa plngkapan bwt mabit. Aks 2 hr, d Jakarta. Mngawal paripurna pansus Bank Century. Sebarkan!”

Itulah bunyi sms dari Ukhti Lala (Kadept.KP Kamda) yang sampai pukul 5.39 pagi kemarin. Subhanallah membaca sms ini saja hati saya bergetar. Ingin sekali ikut turun ke jalan lagi, berteriak menyuarakan nurani. Walau saya tahu setiap aksi peran saya sangatlah kecil, tak mengapa. Walau kecil tapi api semangat itu amat besar. Disana, di jalanan, bersama kawan-kawan seperjuangan hanyut dalam harmoni yang (bagaimana bisa dijelaskan dengan kata-kata) begitu indah. Meneriakkan yel-yel di bawah terik mentari dan debu jalanan, menyanyikan lagu-lagu aksi dengan tangan-tangan terkepal. Subahanallah, semangat itu…luar biasa!

Sedikit kecewa ketika pagi ini mengetahui kalau aksi kemarin ga’ jadi. Menurut info yang saya dapat kemarin hanya aksi di daerah saja.
Saat buka Facebook melihat status beberapa kawan (yang rata-rata anak KAMMI) yang bertutur persiapan aksi hari ini saya jadi cemas, jangan-jangan KAMMI Banten ga’ ikutan lagi ke Jakarta.
Tak ingin menduga-duga lebih baik tanya pada ketua saja.

“KAMMI Banten untk aksi saat ini tdk menurunkan akhwat demi kebaikan bersama khawatir chaos, semoga bisa maklum. 150 kader KAMMI ikhwan brangkat dgn bus Armada.”

Informasi yang saya terima dari Akh Anam. Alhamdulillah, lega. Walau sedikit ga’ terima (hiks!) karena akhwat ga’ diajak. Tapi tak mengapalah.

Semangat saudara-saudaraku, Allahu akbar!!