P-Off Pindah Jam Tayang

Assalamualaikum,
Pengumuman: PERSEPSI OFFLINE (pelatihan menulis) berubah jam tayangnya.

Sekarang setiap hari Rabu, pukul 15.30 s/d Selesai.
Utk tempat masih di sekretariat KAMDA di Penancangan.

Ayooo yang belum gabung, Buruuuaaann.. Ga nyesel deehh, dijamin bermanfaat
Ilmunya.. InsyaAllah..

Info tambahan :
Untuk edisi tayang perdana ini materinya tentang Book Report. Pematerinya jago lho. Karyanya sering dimuat di Radar Banten.
Pada dateng yah.

Salam Semangat,
Humas

Amanah itu Apa? (2)

Oleh : Cholid Aldin  (Staf Humas)

Alkisah, di sebuah kampus di sebuah negeri “al-balad”, sedang ramai2nya musim kampanye. Kampanye para pemuda masa depan yang hendak belajar menjadi politisi. Para calon politisi itu sedang sibuk2nya mengumpulkan massa untuk suksesi di kampusnya.
***
06.30 pagi.
Di ujung komplek gedung kegiatan mahasiswa (GuKiMa), terdengar sayup2 suara calon politisi itu, yang sedang mengadakan rapat konsolidasi bersama para masa “pendukung” nya.

- Ketua rapat itu membuka acara, “mari kita buka agenda kali ini, dengan bersama2 membaca Basmalah.
+ bismillahirohmanirrohim…. (serentak)
- Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah –nasib- suatu kaum, sehingga mereka yang mau mengubah jiwa mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11).. Ikhwahfillah… alhamdulillah di tahun ini, bersama penambahan jumlah kader kita baik di universitas maupun di fakultas, sudah selayaknya kita membutuhkan tokoh2 muda, tokoh yg akan menghantarkan kita kepada mihwar kampus selanjutnya, kita harus memulai dan membuka pintu mihwar ini ke tahap yang lebih tinggi. yatu mihwar Dauly di wilayah kampus. Kita harus menguasai Eksekutif di tahun ini, kita sudah lama dan muak dgn tingkah para preman2 itu, kini saatnya lah kita menunjukkan eksistensi kita, kita tidak hanya jago kandang! KIta akan buktikan bahwa kita bisa!… masa yg hadir ditempat itu serentak….
+ Allahu Akbar..!!! sembari mengangkat tangan mereka tinggi2…
- kemudian sambutan dari ketua rapat konsolidasi itu dilanjutkan. “maka dari itu kita membutuhkan tenaga2 antum untuk senantiasa bergabung dlm barisan ini, barisan yang insyaALLAH mengusung suara kebenaran, penyambung suara ketertindasan, kita akan lawan semua ktidakadilan… Bersama2 kita telah hadir akhie Fulan, Kita akan maju bersama akh fulan untuk suksesi kampus tercinta ini…. Allahu akbar!. Ketua rapat itu masih meneruskan sambutannya…. dan kemudian menyerahkan forum itu kepada akh Fulan, selaku yang akan di usung maju dalam suksesi kampus itu…
+ “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Qs. Al-Fushilat:33) …..
di akhir pernyataanya, akh Fulan menegaskan: “ane ga akan bisa apa2 tanpa antum semua, mari kita satukan tekad, dan luruskan niat2 kita untuk bersama2 memperbaiki kondisi kampus ini. Bukan karena dunia semata, bukan karena tahta, dan bukan pula karena wanita. Mari kita bersatu! Allahu Akbar!, sekali lagi ane tegaskan… Luruskan niat2 kita.. InsyAllah Allah tetap bersama kita.
****

Singkat cerita, pada malam penghitungan suara, diliputi suasana ketegangan, terdengar suara2 tangis kebahagiaan… Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar! disertai derai air mata kebahagiaan, malam itu terasa indah, begitu syahdu dengan nyanyian2 kebahagiaan dari para massa “pendukung” akh Fulan, yang di nyatakan, menang tipis dari rival2 politiknya….

Di ujung2 lorong2 gedung, sahabat2 akh Fulan melakukan sujud syukur… mereka sengaja datang ke kampus untuk menyaksikan penghitungan suara. sahabat2 itu, yang akan men-tegarkan semangat masa pendukung, jika hal terburuk terjadi atau jika kekalahan menimpa akh Fulan. dan mereka akan memberikan selamat serta semangat kemenangan kepada akh Fulan dan kawan2 jika hasil terbaik yang di dapat oleh akh Fulan.

Tak ketinggalan, teman2 seperjuangan dikampus, yang mendukung suksesi ini dari awal sampai batas perjuangan ini, banyak yang berlari menuju musholla kampus dan kemudian serentak mereka mensyukuri hasil perjuangan ini dengan bersama2 besujud kepada sang Kuasa.
***

Esok harinya…..di Rumah kost Akh Fulan,
Krik..krik..krik… suara jangkrik itu terdengar sangat merdu, hembusan angin terasa sangat syahdu…

- Assalamualalikum Wr.Wb, suara akh fulan memulai pertemuan itu, pertemuan ini adalah lanjutan setelah ditetapkannya akh fulan sbg “Pemenang” dlm suksesi kampus.
+ Alaikumslam…. dijawab serentak oleh segenap hadirin di rumah itu,
- Ikhwahfillah… Alhamdulillahirobbil alalmin… syukur kita semua kepada–NYA, tiada yang menandingi-NYA, shalawat salam bg RasulNYA, alhamdulillah, atas pertolongan dari NYA dan atas kerja2 kita semua, tahun ini kita bisa membuktikan kepada “kawan2″ politik kita di kampus bahwa kita bisa!, kita adalah bukan org2 sembarangan. Semoga dengan ini, kita bisa memperbaiki keadaan yang sudah tidak nyaman ini…. Namun, ini bukan akhir perjuangan ikhwah… ini hanyalah pintu gerbang, ini hanyalah satu dari sekian banyak jalan yg hrus kita lalui.. jangan terpedaya dengan “kemenangan ” ini. Ini adalah cobaan dr NYA, dan kita akan senantiasa di beri cobaan2 lain, yang kemudian akan menguji kita, menguji keimanan2 kita, menguji kesetiian2 kita kepadaNYA….. Kita harus senantiasa bertaqarrub kepadaNYA, krn DIA lah sang pemberi amanah ini…
****
(Bersambung)

Amanah itu Apa?

Oleh : Cholid Aldin (Staf Humas)

BERDALIH KEBUTUHAN,

- Akhie…, demi dakwah. antum siap kan jika kita amanahkan disana?
+ Ehm…. gimana yah akh..? ane takut ga amanah akh. khawatir ga bisa melaksanakan nya dgn baik, ane khawatir bukan kemanfaatan yang akan timbul nantinya, malah kemudharatan.
- Akhie, klo bukan antum siapa lagi..?
+ ya, masih banyak koq akh..
- iya, emang masih banyak tapi siapa?
+ ya klo masih banyak, ya berarti siapa aja. insyAlllah masih ada yg lbh kapabel koq. antum coba cari dulu deh akh..
- Akhie… ga ada waktu lg buat nyari, ini urgent. Dakwah ini membutuhkan antm akh..
+Ehm…. ya udah deh akh, ane akan coba.

Monolog diatas, moga jadi refleksi kita bersama.
Kita sering sekali mencari pembenaran untuk melegalkan “keinginan2 kita” untuk membebankan amanah kepada seseorang. Apalagi “yang mengaku” Aktifis Dakwah. seringkali Berdalih atas nama dakwah, padahal saya ga tau dakwah yang mana yang dimaksud.

Dari contoh monolog diatas, si calon penerima amanah kan sebetulnya dipaksa, sampai akhirnya dia mau menerima yang di bebankan kepadanya. pake nama2 dakwah segala lagi. Siapa yang ga “keki” coba, klo kita terus-menerus di “goyang” idealismenya.

Atas nama dakwah!, meski jika ditanya dakwah yang mana, entahlah siapa yg akan mampu menjawabnya. Haruskah aku bertanya pada rumput yang bergoyang..??? layaknya Ebiet G. Ade. Ataukah saya harus bertanya pada malam seperti Peterpan..??

……………………..

………..
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh” (Q,Al-Ahzab;72).

Ayat ini dapat dikatakan bersifat informatif sekaligus preskriptif (sarat dengan pesan dan peringatan), antara lain begitu beratnya amanah, sehingga semua makhluk selain manusia—yaitu langit, bumi dan gunung—menolak tawaran itu, karena mereka merasa khawatir tidak mampu melaksanakannya. Selanjutnya ketika amanat itu ditawarkan kepada manusia,—Adam As—lalu ia menerimanya (wahamalah al-insan), padahal manusia itu sungguh zalim dan bodoh. Ketika itu Adam tanya kepada Allah “Ya Allah apa faedahnya dengan amanah itu buat diriku (manusia)?” Lalu Allah menjawab; wahai Adam; in ahsanta wa ‘atha’ta wa ra’aita al-amanata falaka ‘indi al-karamati wa al-fadhli wa husna al-tsawabi fi al-jannati “Bila kamu melaksanakannya dengan baik, taat,dan menjaga amanah tersebut, maka kamu mendapat kemuliaan, keutamaan (pahala) serta memperoleh balasan yaitu (surga), dan sebaliknya bila kamu melakukan kemaksiatan dan tidak menjaga hak-hak amanah tersebut, maka sesungguhnya Allah akan mengazabkanmu dan menempatkanmu di dalam neraka.(lihat Ibn Katsir; 1993/501). (diambil dari: http://www.harian-aceh.com/opini/85-opini/2215-amanah-dalam-konteks-al-quran-.html)

Sungguh merinding tubuh ini ketika membaca ayat diatas. Sebegitu bodohnya manusia, hingga mau memegang amanah itu. Padahal Gunung yang -secara postur- lebih besar dr manusia enggan dan menolak amanah dr Allah, tp kita, manusia yang kerdil ini mau menerimanya.

Amanah itu wajib kita tunaikan. seperti layaknya ibadah, kita harus senantiasa melaksanakannya dengan sepenuh hati penuh ke ikhlasan. jika ibadah kita artikan hanya sebagai ritual belaka, suatu saat nanti kita bisa saja meninggalkannya, jika sudah tidak ada lagi kemanfaatan yang kita peroleh darinya. Tetapi ibdah bukan semata ritual sebagai penggugur kewajiban semata, tapi harus ditanamkan dalam diri bahwa ibadah adalah sebuah konsekuensi logis, kepatuhan kita kepada sang Pencipta, atas apa yang telah Dia berikan kepada kita.

Ini yang mungkin jadi kegelisahanku, kenapa setiap kali di amanahkan sesuatu, ada ketakutan yang menggelayut di hati, aku takut aku khianat, aku takut aku maksiat, dan aku takut atas siksa-NYA, seandainya kita “lecor” pada amanah itu. aku harus menghitung2 kembali manfaat dan madharat nya untukku. bukan karena aku pilih2, tp karena aku takut ga bisa menjalankan amanah itu …. Ya ALLAH, kuatkanlah pundak ini untuk memikul amanah ini…

………………………..
Aku teringat, beberapa saudaraku yang dengan enaknya menerima semua amanah yang diberikan kepadanya. Entahlah, karena apa dia mau menerima amanah itu, saya tidak mau bersu’udzon tentang itu, mski akhirnya tetap ada rasa yang mengganjal d hati, kenap koq dia mau…???

Ah…., saya ga bisa nyalahin saudara saya itu sepenuhnya, karena biasanya (meski ga bisa men-generalisir juga), ada orang2 yang menawarkan amanah itu kepadanya, dan berarti kesalahan bukan terletak pada yang menerima amanah itu, tetapi kesalahan bisa jadi ada pada yang memberikan amanah. Koq gitu? iya dong, harusnya setiap kita mau memberikan amanh kepada seseorang, lebih dulu kita analisis kebaikan dan kemafsadatan amanah itu jika diamanahkan kepada orang yang tidak tepat.
………………………..

Saya heran dengan ulah bebrapa oknum, yang coba memberikan amanah kepada seseorang, tetapi kadang secara serampangan menganalisa kondisi pribadi yang akan diminta memegang satu amanah itu. Pernahkah mereka mencoba mengalisa secara komprehensif latar belakang si calon pemegang amanah itu? saya rasa tidak (bukan bermaksud su’uddzon).

Buktinya, setelah kemudian di analisis lagi, ternyata kita “kecolongan” dengan bebrapa ulah si pemegang amanah. inilah yang kemudian harus menjadi refleksi kita bersama.
………………………….
(bersambung…)

Ibu Jasamu Terlukis dalam Surga

Oleh : Yani Supriani (Staf HUmas KAMMI Banten 2008-2010)

APA YANG KUBERIKAN UNTUK MAMAH.. UNTUK MAMAH TERSAYANG..

APA YANG KULAKUKAN UNTUK MAMAH.. UNTUK MAMAH TERCINTA..

HANYA INI KUNYANYIKAN SENANDUNG DARI HATIKU UNTUK MAMAH

HANYA SEBUAH LAGU SEDERHANA…

LAGU CINTAKU UNTUK MAMAH…

Itulah penggalan dari sebuah lagu, yang dikarang oleh AT. Mahmud beberapa tahun silam, namun karya nya tetap di abadikan hingga kini. Mungkin sewaktu kecil lagu ini, hanya sebagai lagu favorit saja, yang biasa aku dendangkan di saat waktu senggang. Tetapi kini aku mencoba menghayati maknanya, memaknai setiap intisari kata-katanya.

Seberapapun besarnya aku ingin membalas semua pengorbanan ibu, seberapa besarnya keinginan ku membayar jasa-jasa ibu, seberapa banyak harta yang dimiliki untuk menggantikan biaya yang telah dikeluarkan oleh ibu. Niscaya tidak akan tergantikan. Dan kau pun tidak menuntut itu. Karena kau hanya ingin melihat anak-anaknya tumbuh sehat dan berguna bagi agama, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Ibu ketika resah menghantam jiwa, kau ada di sampingku. Di saat aku terluka kau masih disampingku. Ketika aku lelah dan semangatku patah kau tetap di sampingku. Ibu jasamu tiada terbalas, jasamu tiada terbeli, jasamu tiada akhir, jasamu tiada tara, jasamu terlukis indah di dalam surga. Terimakasih ibu, hanya kata-kata ini yang bisa kukatakan sebagai bukti aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku membanggakanmu dengan setulus hati..

Mungkin bukan aku saja, anak-anak di luar sana pun, sama antusiasnya denganku untuk menggaungkan kekaguman pada ibunya masing-masing. Meskipun dari sebagian ada yang ibunya telah tiada, tetapi kasih sayang ibunya akan tetap terasa, semagat ibunya akan tetap membara, sampai kapanpun ibunya akan tetap ada di hatinya dan mendo’akannya.

Ibu, bulan ini adalah bulan perayan hari mu, berbagai kegiatanpun diselenggarakan. Mulai dari aneka lomba masak, berpakaian kebaya, merangkai bunga sampai pesta kejutan untuk mu. Semua itu adalah kado istimewa. Itulah ungkapan sayang anak-anak nya untuk ibu. Tetapi ibu, misi sejatinya dari perayaan hari ibu ini adalah lebih kepada mengenang semangat juang kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib bangsa.

Pada saat itu tepatnya tanggal 22-25 desember 1957 pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-nusantara berkumpul untuk menyatukan pemikiran dan semangat memperbaiki nasib kaum perempuan, yang bertempat di gedung mandalabhakti wanitatama, Yogyakarta. Dihadiri sekitar 30 0rganisasi perempuan dari 12 kota, dan salahsatu hasil dari kongres itu adalah membentuk kongres perempuan yang kini dikenal sebagai Kowani.

Berbagai isu yang berhubungan dengan kaummu dipikirkan untuk digarap, mulai dari pelibatan perempuan dalam membangun bangsa; perdagangan anak; hingga perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita. Tidak ada gembar-gembor menuntut kesetaraan gender di sana, karena sejatinya memang kaum wanita memiliki fitrah yang berbeda dengan kaum pria. Hingga akhirnya dalam kongres perempuan ke III , Presiden melalui Kepres No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu nasional.

Kini perhelatan hari ibu di Indonesia diperingati setiap tahunnya. Tidaklah berlebihan karena seperti itulah untuk menggambarkan kelebihan sosok ibu, untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan terimakasih kepada ibu. Dan kuharap sebagai bangsa yang merdeka kita memaknai dan memperingati hari ibu dengan penuh rasa syukur dan semangat untuk terus berjuang melanjutkan para pendahulu kita.

SELAMAT HARI IBU UNTUK IBU-IBU INDONESIA…

Demam Facebook

Wah..wah..ternyata Indonesia adalah negara ketiga terbesar pengguna facebook. Jejaring sosial satu ini udah ngalahin friendster deh. Kayaknya ga’ gaul kalau tidak punya facebook. Begitu pula nih sama aktivis KAMMI Banten. Mainannya sekarang fb euy! Makanya kami dari Departemen Hubungan Masyarakat ikutan juga punya fb. Namanya juga punya departemen, jadi yg ngelola ramean deh. Awalan, Kadept. PO nyangka yg engga-engga. Bilang kalau fb Humas dikelola Tyan ‘n Mey saja. Padahal engga gitu kan.

Jadi buat semua undang Qta ya di kammi_banten@yahoo.com

Tahun Abu

Tahun Abu (Kisah Heroik di Masa Khalifah Umar Ibn Khathab)

by : Yuda Aldurra

Ikhwah wa akhawat fiLLAAH hafizhakumuLLAAH.

Al kisah terjadi ketika zaman kepemimpinan khalifah kedua Umar “al Faruq” Ibn Khathab. Ketika itu Umar dihadapkan dengan cobaan yang sungguh luar biasa yaitu dimana terjadi kekurangan-kekurangan sampai meliputi ke seluruh sektor. Kekurangan-kekurangan itu diantaranya bencana kekeringan dan kelaparan yang berkepanjangan. Bencana kekeringan ini juga dikenal dengan nama tahun abu.

Sang Khalifah Umar Ibn Khathab langsung mengambil inisiatif yaitu memakai keuangan negara yang terdapat di Baitul mal. Kemudian uang dipergunakan untuk membeli dua ekor unta setiap harinya selama tahun abu ini berlangsung. Kemudian dua ekor unta itu disembelih dan dimasak. Setelah selesai proses pemasakan daging itu, Umar langsung memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk memakan daging unta tersebut secara bergantian. Umar yang memiliki jiwa sensistifas amal yang sangat tinggi, beliau lebih memilih mendahulukan kepentingan rakyatnya (selalu menjadi yang terakhir) untuk menyantap hidangan daging unta tersebut.

Sang khalifah Umar Ibn Khathab setiap malamnya selalu mengililingi kota untuk mengamati bagaimana keadaan malam hari disana. Tiba pada suatu rumah Umar mendengar tangisan anak kecil. Beliau langsung mendekati rumah tersebut melihat apakah yang terjadi dalam rumah tersebut. Diketuklah pintu rumah itu dan terlihat ada seorang ibu-ibu tua sedang berada di dapurnya. Umar bertanya pada ibu-ibu tua tersebut, “wahai ibunda apakah suara tangisan anak kecil berasal dari rumah ini.” “Ya,” ibu itu menjawab. Umar bertanya kembali, “apakah gerangan yang menyebabkan anak itu menangis.” “Anak itu menangis karena kelaparan sudah beberapa hari ia tidak makan.” Jawab ibu itu kembali. “Apakah yang dimasak wahai ibu,” tanya sang khalifah “Batu, saya masak untuk menenangkan hati anak itu. Kami kelaparan disebabkan karena khalifah Umar sang pemimpin tidak memperdulikan rakyatnya yang kelaparan. Dimana sang khalifah itu? Dimana?” Setelah jawaban dari ibu-ibu tua itu tersentaklah hati Umar dan ingin menitikan air mata duka yang akibat dari kesalahan dirinya. Sang pengawal ingin memberitahu bahwa yang berada dihadapan ibu adalah sang khalifah Umar Ibn Khathab. Kemudian Umar menahan sang pengawalnya untuk mengatakan bahwa dirinya Umar Ibn Khathab. Pasca kejadian itu Umar langsung pergi untuk mengambil sekarung gabah dari Baitul Mal. Tetapi pengawalnya mencegahnya untuk mengambilkan sekarung gabah itu. Tetapi Umar menolak dan berkata, ini semua karena kesalahanku, aku harus bertanggungjawab atas kejadian ini.

Ikhwan wa akhawat fiLLAAH hafizhakumuLLAAH dari kisah itu dapat diambil beberapa ibroh untuk seorang pemimpin:

  1. Pelayanan

Sang pemimpin haruslah memiliki mental sebagai pelayan umat. Di saat rakyat membutuhkan, di saat rakyatnya menderita dan di saat rakyat dalam keadaan terjepit. Sang pemimpin haruslah mempunyai jiwa pelayan untuk rakyatnya itu. Bagaimana rakyat tidak kecewa kalau pemimin itu tidak melayani kepentingan-kepentingannya.

  1. Amanah

Jika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, kata Rasulullah, maka tunggulah saat-saat kehancurannya. Itu merupakan sebuah gambaran yang dijelaskan oleh Rasulullah. Bagaimana besarnya amanah yang dipikul oleh pemimpin, seperti yang dicontohkan ketika sang khalifah Umar ketika diangkat menjadi Khalifah kedua. Ketika itu Umar menangis karena akan beratnya memikul amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat maupun pengadilan tertinggi, yaumul hisab.

  1. Memberikan yang terbaik

Seorang pemimpin harus memberikan yang terbaik untuk rakyatnya, ketika seorang pemimpin melihat kondisi rakyat semakin lama semakin memperihatinkan. Bagaimana tanggung jawab seorang Umar ketika melihat rakyatnya kelaparan, ia langsung sendiri mengambilkan gandum. Itu seorang pemimpin harus bisa memperhatikan, melihat dan langsung turun ke tengah kehidupan masyarakat. Dimana sang pemimpin harus memberikan yang terbaik kepada rakyatnya.

Mungkin itu hanya segelintir kisah heroik sahabat yang dapat diambil ibrohnya.

In Uridlu Illal Ishlaha Mastatho’tu

Mari Kita berHijrah

Mari Kita berHijrah

Sejarah singkat tahun baru Islam.

By : Yuda Aldurra

( Kandidat Ketua KAMMI Banten 2008-2010)

Berselang dua atau tiga bulan setelah tahun baru Januari, (biasanya) satu tahun baru datang lagi atau dalam tahun ini berbeda hanya beberapa hari saja. Tahun baru Islam, 1 Muharram. Berbeda dengan tahun baru yang itu, yang ini sepi-sepi aja. Nggak ada keramaian apapun. Nggak ada tiup terompet dan karnaval dan jalanan cenderung nggak peduli dan adem ayem saja. Atu-atunya yang bisa kita nikmati dengan datangnya Tahun Baru Hijriah ini adalah hari libur jika nggak berbenturan dengan hari Minggu. Setelah itu, sudah nggak ada apa-apa lagi.

Padahal, Tahun Baru Hijriah, tahun kita semua umat Islam dicatatkan dengan sejarah yang menumpahkan darah dan jiwa. It’s about struggle of life. Kenapa Tahun Baru Hijriah ada, sesungguhnya merupakan sebuah perjalanan sejarah panjang yang telah ditorehkan oleh seorang manusia bernama Muhammad.

Kapan mulai terjadi perhiungan tahun Hijriah? Menurut salah satu riwayat, yang mendorong perhitungan tahun ini adalah adanya surat dari Abu Musa Al Asyari, amir atau gubernur di Bashrah kepada Kahlifah Umar Bin Khattab, bahwa ia menerima surat dari Khalifah yang nggak bertarikh tahun dan hal ini menimbulkan kesulitan. Dimulai pada tahun 17 Hijriah (H) atau 7 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW. tepatnya, terjadi waktu zaman Khalifah Umar ini. Dalam kepemimpinannya, diriwayatkan memperlihatkan kemampuan “leadership” yang tinggi, baik di pemerintahan maupun kemasyarakatan. Ditunjang pula, sikap kenegaraan demokratis yang berwawasan luas, berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia juga dikenal sangat disiplin dan tegas dalam memerintahan.

Pada pembahasan mengenai soal perhitungan tahun tersebut, terdapat beberapa alternatif yang muncul. Ada yang menawarkan tahun kelahiran Rasulullah, tarikh kebangkitannya menjadi rasul dan ada pula yang menawarkan patokannya berdasarkan tahun wafat Nabi. Bahwa pada suatu hari Khalifah Umar Bin Khattab memanggil dewan permusyawaratan untuk membicarakan perihal system penanggalan. Dalam kesempatan itu, Ali Bin Thalib mengusulkan agar penanggalan Islam dimulai sejak peristiwa hijrah ke Madinah sebagai momentum saat ditinggalkannya bumi musyrik.

Usulan itu diterima sidang. Khailfah Umar pun menerima keputusan dan mengumumkan berlakunya Tahun Hijriah. Sebenarnya, Hijrah Nabi sendiri pada Kamis akhir bulan Safar dan keluar dari tempat persembunyian di Gua Thur pada awal bulan Rabiul Awal yaitu Senin 13 September tahun 622 Masehi. Tetapi Umar serta sahabat-sahabatnya setuju memulai tarikh dari bulan Muharram tahun itu karena Muharram merupakan bulan yang mula-mula Nabi berencana berhijrah dan bulan selesainya mengerjakan ibadah haji.

Apa makna dari Hijriah itu sendiri? Hijriah diartikan sebagai pindah-berpindah dari tempat yang nggak baik ke tempat yang baik-dalam hal ini kota Mekkah ke Madinah. Dan sekarang kita yang ada di masa sekarang inilah yang bertugas untuk meneruskan semangat dan cita-cita hijrah yang dirintis oleh Rasulullah dan para sahabat.

Semangat berhijrah seolah-olah akan menjadi semangat perubahan. Perubahan menuju perbaikan yang menyeluruh. Perubahan yang senantiasa selalu kita harapkan.

In Uridlu Illal Ishlaha Mastatho’tu

Makna untuk Pemimpin KAMDA

Makna untuk Pemimpin KAMDA

By : Handriyanto Agung

(Kandidat calon Ketua KAMMI Banten 2008-2010)

Sebagai sebuah amanah yang dimintai pertanggung jawabannya di dunia dan di akherat, menjadi pemimpin dalam hal ini menduduki jabatan tertentu bukanlah sesuatu yang harus dikejar, seorang muslim pada dasarnya tidak boleh berambisi untuk menjadi pemimpin, akan tetapi dengan maksud memperbaiki keadaan, bisa dimungkinkan seseorang mau menjadi pemimpin yang dipercayakan kepadanya, ini berarti ambisi bukanlah pada kedudukan atau jabatannya, melainkan justru pada upaya perbaikan masyarakat dan bangsa itu.terlapas dari beberapa pendapat tentang bolehkah muslim meminta menjadi pemimpin atau tidak? Menurut ane sah-sah saja jika kita meminta jabatan atau berambisi untuk menjadi pemimpin terlepas dari momentum saat ini pemilihan Ketua Kamda 2008-2010, karena dengan menjadi pemimpin kita semua dapat m’xpresikan potensi kepemimpinan yang ada didalam diri kita untuk merubah, menjadikan, melayani dan menjadi tauladan untuk kader-kader di bawah kita.

So… gemana pendapat antum semua boleh/tidak kita minta jabatan??? (YA/TIDAK)

(kagak pake alasan juga gpp yang penting di jawab ya,)

Lomba Futsal dan Masak

Komsat Untirta Serang walkout!!
Hei, ada apa ini? Musda-Media yang hari Sabtu lalu datang ngintip finalnya Futsal di Onefutsal Pakupatan disambut dengan aksi walkout-nya komsat Untirta Serang yang dikomandoi oleh ketuanya AKh Ihya. Usut punya usut ternyata mereka kecewa sodara-sodara. Kecewanya apa dan kenapa, kalau mau tahu baca aja Musda Mags di Musda VI nanti ya. Sekarang mending Qta bahas hasil final futsalnya. 8-0, kekalahan telak yang diderita oleh Tim Kamda. Padahal, nih, yang turun para jawaranya yang langsung dipimpin ma Akh Ade Imat Ketua KAMMI Banten. 8 gol yang bersarang di gawang yang dijaga Akh Hendra masing-masing disumbang oleh Akh Santa (4 gol), dan 3 gol sisa oleh 2 rekannya.
Tim Kamda yang sore itu diperkuat oleh Ade Imat, Anam, Mumu, Heru, Ali, Yuda, dan Hendra sebagai penjaga gawang tidak mampu membalas satu gol pun ke gawang UPI Serang. Ini Kamda yang ga’ bisa main (^_^) apa memang UPI-nya hebat ya?
Di pertandingan sebelumnya Sabtu (6/12) lalu sebelum melaju ke final Kamda berhasil mengalahkan Untirta Serang dalam drama adu penalti. Dan UPI mengkandaskan impian komsat IAIN melaju ke final. Komsat Untirta Cilegon kemana ya? Kok ga’ ikut tanding?
Yang jadi PJ acara ini AKh Deni “Frensiip” yang juga merangkap sebagai wasit.
Di tempat berbeda dua jam sebelumnya, giliran para akhwat yang sibuk.
Lomba masak berbahan dasar tahu diikuti oleh departemen- departemen dan 2 komisariat. Dari Sosmas ada Ukhti Santi yang bikin perkedel tahu-jagung, Binsat ada Ukhti Irma yang sepagian nyiapin bakso tahu, Bendahara Jeng Yani menyertakan masakan berjudul kembang goyang tahu sebagai peserta. Dan Departemen KP yang telat datangnya siap dengan pepes tahu hangatnya. BKM yang notabene pengurusnya akhwat semua malah tidak ikut lomba. Tapi Ukhti Imas sibuk jadi panitia. Lumayan, daripada Humas yang enggak ikut lomba jadi panitia juga enggak (he..he..).
Dua komsat yang berpartisipasi adalah Komsat Untirta Serang yang berhasil mengubah tahu menjadi puding tahu. Tahu yang biasanya asin bisa jadi manis juga ya. Dan enak!
Dan tentu saja komsat IAIN yang tidak pernah absen ikut lomba ini. Bahkan sampai mengirim dua utusan. Masakan yang mereka buat adalah pecel tahu ala semarang (giamana bentuknya ya?) . Satu lagi menu mereka adalah tahu dan tahu-tahu enak . Eits, bukan ding! Mereka bikin perkedel tahu tanpa jagung dengan isi kentang.
Yang jadi juri lomba masak ada Teh Erna, Teh…(Istri Akh Kurniadi), dan Ketua KAMMI Banten Akh Ade Imat.
Tahu, semua tahu, mau tahu siapa yang menang?
Tungguin ‘tar di Musda tanggal 27-28 Desember 2008. (Mey)

Puisi : Jendela Waktu Tanpa Dinding

Jendela Waktu Tanpa Dinding
Oleh: Udo Yamin Majdi

dari jendela waktu tanpa dinding
kulihat kau duduk di singgasana
bersama permaisuri jelita
di tengah rakyat jelata
lalu berkata:
“akulah raja faruq,
akan mengubah delta
menjadi permadani palawija
akan menyulap sahara
menjadi istana!”

dari jendela waktu tanpa dinding
kudengar kau berkata di depan murid-muridmu:
“akulah sultan hasan
di sini kita akhir pertikaian
silahkan semua pelajari
ajaran maliki, syafi’i, hambali, atau hanafi!”

dari jendela waktu tanpa dinding
aku datang berbaris bersama engkau
dan dengan gagah kau berteriak:
“Shalahudin Al-Ayyubi tidak gentar,
justru akan kukejar mereka sampai ke puncak langit atau ke dasar lautan”

ketika jendela waktu itu tertutup
semuanya sirna
tak ada lagi penguasa
tak ada lagi ulama
tak ada lagi tentara
yang ada hanyalah pusara
bisu seribu bahasa
dunia memang fana

Cairo, 9 Desember 2008

Puisi ini oleh-oleh setelah berkunjung ke Makam Raja Faruq, Masjid dan Madrasah Sultan Hasan, dan Benteng Sholahudin Al-Ayyubi

« Older entries