DISTORSI DEMOKRASI: DINAMIKA POLITIK INDONESIA
Yuda al Durra*
Indonesia dapat dikatakan dan menamakan dirinya sebagai negara dengan sistem demokrasi. Tetapi tidaklah berarti bahwa pemerintahan dijamin oleh rakyat dan untuk rakyat, dan bisa disebut bahwa kita tidak benar negara demokratis jika dilihat realitas bukan pidato dan formalitas belaka. Sebab dalam sistem demokrasi kitalah semua rakyat Indonesia yang menentukan akan dibawa kemana negeri ini. Ternyata itu menjadi sorotan utama dan dinamika peta politik Indonesia saat ini. Pertaruhan demokrasi yang memang benar-benar menajdi titik tolak kemajuan bangsa kita ini.
Sejarah demokrasi Indonesia adalah sejarah panjang. Seluruh pergulatan dan pergelutan dalam kehidupan bangsa kita ini dapat dipandang sebagai usaha bangsa untuk mencari bentuk demokrasi yang sesuai dengan sistem sosial serta sistem nilai kita. Semenjak para perintis kebangsaan dan kemerdekaan meniupkan nafas kebangkitan bangsa, kemudian mengobarkan semangat nasionalisme Indonesia, dan akhirnya memproklamasikan Indonesia sebagai suatu negara merdeka, pada dasarnya yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia ialah mencari suatu bentuk kehidupan bersama yang bersifat demokratis.
Sejarah ini dapat kita jadikan sebagai modal utama untuk meyakinkan bahwa demokrasi memang sudah seharusnya dilakukan dengan sebenar-benarnya. Bukan demokrasi setengah hati atau asal-asalan yang hanya mementingkan kepentingan individu.
Demokrasi di Indonesia juga semakin diyakini akan mewujud dengan ditandai hadirnya mekanisme multi partai, kebebasan mengemukakan pendapat secara terbuka, kemerdekaan pers dengan menjamurnya penerbitan. Bahkan dengan berlangsungnya prosesi suksesi kepemimpinan nasional yang berjalan relatif lancar pada 1999, 2004 dan 2009 lalu. Transisi demokrasi, jika mengikuti tipologi Huntington, terbagi pada tiga pola antara lain; transformasi (transformation), pergantian (replacement), negosiasi (transplacement), dan intervensi (intervene). Untuk konteks Indonesia, transisi demokrasi yang digunakan adalah pola penggantian walaupun tidak dipungkiri juga ada warna intervensi dari komunitas internasional.
Sehingga tidak ada lagi perbedaan yang mencolok antara rakyat ideal dengan kenyataan yang bobrok. Terlalu jauh dan teramat jauh jaraknya. Rentang jarak inilah yang menjadi masalah kita bersama dan sepanjang itu pulalah kita harus bekerja. Jadi sebelum menjadi pemimpin.
Sampai saat ini pemerintah seakan-akan yang dijalankan dengan cara memanipulasi fakta dan realitas diri dan keadaan akan gagal. Kasus Bank Century, kasus Antasari, kasus Bibit dan Chandra yang dinilai sedikit banyaknya mengandung unsur rekayasa oleh pihak tertentu ternyata gagal mengelabui mata dan hati rakyat. Bahkan ada anggota pansus saling serang sedangkan saat itu menjadi tontonan publik. Kemudian belum lagi banyak terjadi pelanggaran ketika pilkada-pilkada serentak di berbagai kota ataupun kabupaten di seluruh Indonesia. Tetapi yang terjadi ialah maraknya penyimpangan-penyimpangan memenangkan hanya untuk kekuasaan semata. Dan mungkin kemudian mendirikan kerajaan baru dalam dinastinya. Dengan ketika memimpin hanya yang termasuk dalam garis keturunannya yang boleh menjabat pada tataran pemerintahan di daerah yang telah dikuasai.
Distorsi Demokrasi
We’ll give you our votes, but what do we get in return (kami akan memberikan suara kami untukmu, tapi apa yang kami dapatkan sebagai imbalannya). Politik uang (money politics) memang tampaknya sudah menjadi aturan main Pemilu 2009 untuk melenggangkan semuanya, jauh lebih buruk dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya pada era demokrasi ini. Satu dekade reformasi politik ini seakan-akan justru membuat negeri ini terjerumus dan terjerembab ke dalam praktik demokrasi transaksional yang amat buruk. Pada tataran akar rumput (tingkat daerah), sebagian pemilih mengharapkan imbalan dari suara yang mereka berikan kepada partai politik atau individu caleg pada pemilu legislatif ini. Sebaliknya, elite partai atau sebagian caleg juga mempraktikkan politik bagi-bagi uang, barang, atau bahkan bahan-bahan pokok. Sementara itu, pada tataran elite politik yang lebih tinggi, bukan program atau platform partai yang mereka tawarkan, melainkan sibuk dengan politik dagang sapi, untuk membangun koalisi politik.
Pilkada yang akan digelar di 244 daerah pada 2010 dinilai rawan korupsi, penyimpangan dan penyalahgunaan oleh sebagian kalangan terutama KPK. Temuan Bawaslu di beberapa daerah, rumah dinas digunakan untuk rapat-rapat terkait pilkada. Anggota DPRD rapat-rapat tentang pilkada di ruang kerja dan rumah dinas yang jelas-jelas saya mengatakan dengan tegas itukan milik negara! Potensi penyimpangan berupa legalitas dana, politik uang dan penggunaan dana APBD oleh calon incumbent dalam bentuk program-program populis rentan juga dengan korupsi. Belum lagi kekacauan DPT juga menjadi masalah.
Hal ini menyadarkan kita semua bahwa sesungguhnya distorsi itu memang benar-benar terjadi. Kita gagal memilih elit-elit yang benar-beanr reformis. Dan jika kita jatuh pada lubang yang sama, maka akan ada ancaman yang lebih serius bagi kebangsaan reformasi. Sebab, ibarat pertempuran antara virus dan obat anti biotik, ternyata virus-virus yang tersisa dari rezim-rezim terdahulu telah mampu bermetamorfose secara sempurna di era reformasi. Bukan hanya itu, mereka telah memperbaharui kekebalan tubuhnya bahkan beranak pinak.
Jika kekuatan-kekuatan lama kembali berkuasa dengan wajah barunya di pemerintahan, maka orang akan mempertanyakan efektivitas sistem demokrasi yang kosntitusional sebagai sebauh metode perubahan. Kajian dan pengalaman pergerakan Mahasiswa belakangan ini memang mengatakan bahwa sistem demokrasi yang mengatakan bahwa demokrasi yang konstitisional adalah pilihan yang paling baik dalam perubahan. Ia lebih legitimate, legal dan damai. Ongkos sosialnya murah dan karenanya tak perlu ada luka sosial yang akut pula. Ia bertahap dan karenanya lebih terjamin berkesinambungan. Tetapi eksperimentasi di Indonesia sungguh-sungguh akan sangat menentukan evaluasi terhadpa pilihan cara ini.
Sebab Indonesia yang memiliki sejarah panjang perubahan kultural dan damai. Indonesia yang memiliki kemajemukan masyarakat yang paling kompleks, ditambah keluasan wilayahnya yang berbentuk perairan dan penduduknya yang teramat padat.
Distorsi demokrasi memang tidak akan terjadi ketika rakyat dan pemimpin bersatu dalam ideologi dan kebebasan berpikir dan berkehandak. Tidak ada lagi praktek-praktek haram yang melegalkan demokrasi seolah-olah dari rakyat. Tapi rakyat yang mana?? mungkin rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang hanya dijadikan umpan untuk melegalkan kepentingan elit.
Saat ini demokrasi memang bukan sistem politik yang sempurna. Melalui demokrasi, secara teratur dan damai pada kurun waktu tertentu, rakyat dapat ikut berpartisipasi langsung untuk menentukan siapa yang akan menjadi wakil mereka di lembaga- lembaga legislatif dan pimpinan eksekutif. Pilihan itu didasari pada pertimbangan rasional, bukan emosional ataupun irasional. Pilihan partai sepatutnya didasari pada program/platform partai itu yang akan membawa mereka pada situasi yang lebih baik. Brahmana kumaris ishawariya vishwa vidyalaya atau seorang intelektual yang menjaga perilakunya dari kerusakan moral. Kita berharap kepada pemimpin yang memililiki kepekaan terhadap rakyatnya dan bisa menakar intelektual dari pada mempertontonkan moral dan perilaku buruknya apalagi ketika rapat anggota dewan. Kembalikan demokrasi kepada rakyat. Evaluasi menyeluruh untuk sistem ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk membuat demokrasi sebagai alat kita untuk bangsa ini kembalikan dengan makna yang utama dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Merdeka!
Sekjend KAMMI Banten 2008-2010
MR. BARACK OBAMA, SEJENAK DENGARKAN AKU!
(Surat untuk “Anak Menteng” yang jadi Presiden AS)
Oleh: Syamsudin Kadir
Kaderisasi KAMMI Periode 2008-2010
Cp. 085 320 230 299
“Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”
(Qs. al-Kahfi: 103–104)
Mr. Obama,
Sebagai awalan, sangat elegan bagiku untuk mengenalkan diri kepadamu. Namaku Syamsudin Kadir. Dulu aku kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Jawa Barat, masuk 2003. Kini aku beraktivitas sebagai Editor di penerbitan Muda Cendekia, di Bandung Jawa Barat, Indonesia. Aku aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), sebuah organisasi mahasiswa yang tersebar di berbagai kampus di seluruh Indonesia bahkan memiliki jaringan sampai ke luar negeri. Aku berani menulis surat untukmu, karena aku sadar dan benar-benar sadar bahwa cara terbaik berdialog denganmu adalah dengan cara-cara cerdas, mekanisme intelektual.
Aku melakukan itu semua karena terinspirasi dengan kisah Musa ketika menaklukkan Fir’aun. Ceritanya begini. Tongkat itu seketika menjelma jadi ular raksasa. Para penyihir Fir’aun terperangah. Fir’aun dan rakyat Mesir yang menyaksikan pertarungan itu terkesiap. Tapi semua hanya berlangsung sesaat. Karena ular-ular mereka seketika ditelan habis oleh ular raksasa Musa. Dan panggungpun jadi gaduh. Para penyihir itu takluk. Lalu bersujud dan menyatakan ikrar iman kepada Tuhan yang disembah Musa. Namun pertarungan tak selesai di situ.
Fir’aun terus mengejar Musa. Kisah itu pun berkembang menjadi sebuah drama paling kolosal sepanjang sejarah manusia. Puncaknya adalah pengejaran Musa bersama seluruh pengikutnya. Dalam situasi terpojok seperti itu seharusnya Musa berlari ke gunung seperti yang kita baca dalam ilmu strategi perang. Tapi Musa justru berlari ke tepi laut. Berita itu membuat Fir’aun tersenyum penuh kemenangan. Seperti yakin bahwa riwayat Musa seakan berakhir di situ. Namun justru riwayat Fir’aunlah yang berakhir di situ.
Sebab tongkat Musa sekali lagi bekerja dengan cara lain. Tongkat itu membelah laut merah yang kemudian memberi jalan bagi mereka berlari dari kejaran tentara Fir’aun. Dan Fir’aun juga tidak menyadari kalau itu adalah jebakan terakhir yang menutup riwayat keangkuhan dan kerajaannya. Begitulah Fir’aun menyeberangi laut yang seketika tertutup kembali setelah sebelumnya dibelah oleh tongkat Musa.
Tongkat Musa bukanlah simbol pengetahuan. Itu adalah simbol dari apa yang oleh para ahli strategi sekarang disebut sebagai hard power. Itu merupakan tools yang digunakan untuk mengajar, bukan terutama untuk menghancurkan. Karena nabi-nabi itu seluruhnya diturunkan untuk satu misi: mengajar manusia. Cara manusia belajarlah yang membedakan tools yang tepat yang digunakan untuk mengajar mereka.
Dalam situsasi Fir’aun dan zamannya, hanya hard power yang bisa menundukkan dan menaklukkan mereka, serta menyadarkan mereka bahwa di atas kebesaran mereka ada yang jauh lebih Maha Besar. Itu cara belajar yang primitif karena sepenuhnya bertumpuh pada dimensi visual, dan relatif mengabaikan semua dimensi penalaran. Di sini nasehat tidak terpengaruh. Kebenaran berpengaruh hanya ketika ia menang dalam pertarungan fisik.
Hard power itu, di zaman kita, adalah kuasa teknologi yang sebagiannya menjelma pada mesin perang modern. Jika tongkat Musa adalah simbol hard power, maka keunggulan itu berasal dari mukjizat Allah yang diwahyukan kepada Musa. Itu pengetahuan di atas pengetahuan zamannya, persis seperti Nuh yang diwahyukan membuat perahu untuk mengantisipasi banjir.
Coba perhatikan penjelasan Allah dalam al-Qur’an dalam surat Yunus ayat 90-91,
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Bush mungkin senyum ceria ketika terjadi pembantaian yang dia restui di berbagai negara-negara muslim. Ketahuilah, “laut” yang menutup kepongahan itu akan segera datang. Kalau Mr. Barack Obama masih mengikuti jejak Bush, maka kisah di atas ada relevansinya. “Tongkat-tongkat” baru akan muncul membelah laut yang “Barat” arungi. Bentuknya ada banyak. Bisa ilmu, bisa alat-alat perang, bahkan bisa berbentuk surat. Surat ini adalah semacam “tongkat” bagi kepongahan Amerika Serikat yang selama ini “tuli” dan “dungu” terhadap perdamaian dunia. Mr. Obama, kalau kau sadar dan tidak mengikuti jejak pendahulumu, Bush, maka surat ini tidak akan menjadi “Tongkat” atau “Perahu”, justru sebaliknya akan menjadi titik terang bagi apa yang kau sebut sebagai perdamaian dan pencitraan baru dunia.
Lebih lanjut, aku melakukan semua ini, bukan karena kebencianku padamu wahai Mr. Barack Obama. Agamaku bahkan keluhuran bangsaku tidak menghendaki itu. Sebaliknya, agama dan keluhuran bangsaku mengajarkan untuk menghormati tamu atau delegasi negara lain. Karena itu, bagiku, menulis surat untukmu adalah penghargaan terhadap tamu negara. Walaupun aku tetap pada prinsip bahwa apa yang kau yakini adalah keyakinanmu, dan apa yang aku yakini adalah keyakinanku. Ini adalah kesungguhan untuk membangun tatanan dunia yang semakin damai dan berkeadilan.
Mr. Obama,
Aku, publik bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia masih ingat dengan kunjungan luar negeri Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Hillary Rodam Clinton ke berbagai negara tahun lalu. Dalam agenda lawatan politik tersebut bahkan Hillary Menlu negaramu itu tak segan ke Jakarta, sebuah ibu kota negara representasi negera muslim terbesar dunia. Indonesia, sebuah negara di mana aku, SBY dan kebanyakan umat Islam tinggal. Bagiku, kunjungan Menlumu itu merupakan bukti bahwa Pemerintahan AS di bawah kendalimu ingin membuka hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Selain itu, dirimu melalui Hillary ingin mencoba mengulang kembali kemesraan dengan dunia Islam, seperti Indonesia sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Bill Clinton (suami Hillary Menlumu) ketika menjadi presiden AS.
Mr. Obama,
Kini kau berniat berkunjung. Kunjunganmu–sebagaimana Hillary Menlumu setahun lalu–di satu sisi merupakan bukti bahwa Pemerintahan AS di bawah kendalimu ingin membuka hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Karena bagaimanapun, dirimu pernah tinggal di Jakarta. Oleh sebab itulah, Indonesia menjadi negara yang harus kau kunjungi dalam lawatanmu ke Asia. Di sisi lain, menurutku dirimu ingin mencoba mengulang kembali kemesraan dengan dunia Islam, minimal dengan Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar dunia; sebuah negara di mana aku dan ratusan juta penduduk Indonesia tinggal.
Mr. Obama.
Lalu, mengapa dirimu mesti ke Indonesia? Mengapa harus Indonesia? Banyak pengamat yang memberikan jawaban dan analisa, tentu dengan berbagai argumentasinya. Namun, dirimu lebih tahu apa alasan utama mengapa dirimu ke Indonesia. Yang jelas, menurutku bagi AS (negaramu), Indonesia (negaraku) memiliki peran yang sangat penting karena banyak faktor, di antaranya adalah: Pertama, Indonesia (negaraku) merupakan negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia. Sebagaimana yang pernah kau sampaikan pada saat pidato pelantikanmu sebagai presiden AS pada tanggal 20 Januari 2009 bahwa kau akan mencari pola pendekatan baru dengan pihak Muslim dalam prinsip saling menghormati dan menghargai kepentingan masing-masing pihak.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, Indonesia (negaraku) merupakan aset berharga bagimu dalam mewujudkan upaya harmonisasi hubungan Amerika dengan dunia Islam. Kegagalan fungsi mediasi yang diperankan oleh Amerika (negaramu) selama pemerintahan Bush (pendahulumu) menyebabkan Amerika harus memiliki pola pendekatan baru dengan pihak Muslim. Selama ini, Indonesia dapat memainkan peran politik internasionalnya secara relatif cantik terhadap isu-isu yang berkaitan dengan dunia Muslim, antara lain terlihat dalam keterlibatan Indonesia dalam penyelesaian konflik Muslim Pattani di Thailand Selatan, Pengungsi Muslim Rohingya dari Myanmar, konflik Palestina-Israel, dan konflik Sunni-Syiah di Irak.
Kedua, Indonesia bukan merupakan sekutu, juga bukan merupakan musuh Amerika Serikat (negaramu). Yang aku tahu dari berbagai macam sumber, hubungan Indonesia-AS memiliki pasang surut, kadang cinta kadang juga benci. Di masa pemerintahan Soekarno, Indonesia relatif lebih dekat dengan Uni Soviet dan Cina yang lebih dikenal sebagai poros Jakarta Moskow-Peking.
Keberpihakan Indonesia dalam poros tersebut menyebabkan Indonesia memiliki posisi tawar dengan AS dalam era perang dingin tersebut. Kemunculan Soeharto pada masa Orde Baru mendapat dukungan penuh AS, tidak heran jika kemudian AS mendapatkan imbalan berupa sejumlah megaproyek, terutama yang terkait dengan pertambangan dan eksplorasi migas. Orde Baru merupakan masa bulan madu hubungan AS-Indonesia. Memasuki masa reformasi, Indonesia relatif memiliki hubungan yang lebih rasional berdasarkan pertimbangan untung rugi bagi kepentingan bangsa dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Hal ini tidak terlepas dari peran kontrol segenap masyarakat terhadap tata penyelanggaraan pemerintahan yang bersih, benar, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Contoh paling mutakhir adalah protes keras masyarakat Indonesia terhadap agresi Israel ke Gaza yang mendapat dukungan penuh AS.
Ketiga, Secara ekonomis Indonesia merupakan salah satu ‘tambang emas’ bagi negaramu. Hal ini mengingat begitu banyaknya potensi sumber daya alam yang bisa dikelola oleh perusahaan-perusahaan negaramu maupun banyaknya penduduk negarku sebagai potensi pasar bagi produk-produk buatan negaramu. Atau kau punya alasan dan agenda lain yang tersembunyi? Kalau ada lebih bijak kalau kau bicara terbuka saja. Bersahabat itu kan tak harus saling membohongi. Jujur saja, bicara apa maumu dan apa adanya. Okelah kalau dirimu tak bisa bertemu denganku secara langsung, karena memang cukup Presiden Indonesia (SBY) saja yang mewakili aku dan teman-temanku sebagai tuan rumah. Asal kau bicara dengan jujur. Lebih dari itu, jangan sekali-kali merusak kedaulatan negaraku dengan membawa pasukan serba-serbi. Bukankah dirimu ke Indonesia sebagai bukti cintamu kepada negaraku yang dulu sempat menjadi negaramu juga? Lalu, mengapa bawa pasukan segala?
Mr. Obama,
Okelah, itu urusanmu. Lebih lanjut, aku ingin bertanya, “ke mana arah baru politik global dunia ke depan?” Sebelum kau jawab, aku ingin bercerita dulu. Yang aku tahu dari Kompas (19/4/2009) dalam KTT Organisasi Negara-negara Amerika di Port of Spain, Trinidad-Tobago, Presiden Venezuela Hugo Chavez mendatangi dan menyalamimu. Menurut teman-temanku dalam berbagai diskusi dan perbincangan ringan, adegan ini ditengarai akan menjadi awal perbaikan dalam hubungan AS dengan Venezuela, berikut negara-negara yang tergabung dalam ”poros sosialisme” di Amerika Latin. Sebelum itu, untuk pertama kali dalam 30 tahun, Pemerintah AS telah mencabut larangan bagi warganya berkunjung dan mengirimkan uang ke Kuba. Apakah ini benar-benar terjadi? Kalau benar-benar terjadi dan itu dilandasi oleh kemauan yang kuat untuk membangum iklim politik baru bagi negaramu, baguslah. Tapi jangan sesama negara kawasan Amerika saja. Lakukan hal yang sama terhadap negara-negara muslim yang telah dan sedang pasukanmu koyak-koyak. Ini serius lho. Kan kasihan kalau manusia yang satu membunuh manusia yang lain.
Mr. Obama,
Aku ingin berpendapat seperti ini tentang fenomena arah baru politik AS tersebut. Di bawah kepemimpinanmu, kebijakan luar negeri AS yang mengedepankan persuasi dan menjauhi konfrontasi telah dan akan mendapat sambutan positif dari beragam kalangan dalam masyarakat internasional. Lalu, apa makna pendekatan baru AS ini dan tantangan-tantangan apa yang harus kau dihadapi dalam kiprah internasional pada masa kini dan mendatang? Dirimu yang lebih tahu tentang itu semua. Yang jelas aku pernah membaca artikel Syamsul Hadi (30/4/2009) mengenai politik internasional. Dalam artikel tersebut Syamsul Hadi mengutip sebagian sebuah artikel yang menuangkan secara komprehensif visi dan misimu dalam politik internasional yang dikutip dari ”Renewing American Leadership”, Foreign Affairs (Juli/Agustus 2007). Menurut Syamsul Hadi, kau pernah menyatakan bahwa untuk memperbarui kepemimpinan AS di dunia internasional diperlukan pembangunan kembali aliansi, kemitraan (partnerships), dan kelembagaan yang dibutuhkan untuk menghadapi beragam tantangan. Menurutmu waktu itu, pembaruan kepemimpinan itu tidak dapat dicapai dengan cara menggertak dan mengancam pihak lain, tetapi dengan meyakinkan pemerintah dan masyarakat internasional tentang manfaat positif suatu kemitraan yang efektif.
Okelah kalau begitu, aku percaya itu. Walau belum seberapa, hal itu kau telah buktikan, minimal kemauan. Kau mengawali kepemimpinanmu dengan rencana menutup penjara Guantanamo, simbol pengabaian hak asasi manusia dalam perang antiterorisme yang digerakkan Bush, pendahulumu yang “tuli” itu. Langkah ini menjadi awal yang positif untuk mengembalikan kepercayaan dunia Islam, aku sendiri dan bahkan SBY kepada AS. Terus, aku juga masih ingat, saat berkunjung ke Turki awal April 2009, kau juga menyampaikan pesan kepada dunia Islam bahwa AS tidak akan dan tidak pernah akan berperang dengan umat Islam.
Mr. Obama,
Dalam pembicaraan dengan Raja Abdullah di sela-sela KTT G-20, kau kembali menyampaikan dukunganmu atas gagasan Arab Saudi menyangkut negosiasi perdamaian Arab-Israel yang sedang mengalami kebuntuan. Kau juga telah merangkul Suriah, yang pada masa Bush diisolasi karena dukungannya terhadap rakyat Palestina yang dikomandoi Hamas dalam konflik Timur Tengah. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad juga telah menyatakan kesediaan memulai dialog dengan AS, Uni Eropa, dan Rusia dalam masalah nuklir. Kepercayaan kepadamu juga dicerminkan dalam pernyataan tokoh ulama Syiah Lebanon, Ayatollah Husein Fadlallah, yang menyampaikan keyakinannya bahwa AS di bawah kepemimpinanmu akan bisa bekerja sama dengan Iran (Kompas, 16/4/2009).
Dalam kaitan dengan krisis global, kau menunjukkan sikap kooperatif dan reformis dengan menyetujui usulan Uni Eropa bagi pengaturan yang lebih ketat atas perusahaan-perusahaan hedge fund di pasar finansial. Dalam aspek kelembagaan internasional, AS telah memberikan ruang lebih luas bagi aktualisasi peran China, yang sebelum KTT G-20 menyuarakan gagasan pentingnya sebuah alat tukar internasional sebagai alternatif terhadap dollar AS. Dengan kesediaan China membeli surat-surat berharga Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rangka memperbesar dana lembaga keuangan internasional tersebut, porsi China tentu akan diperbesar dalam proses pengambilan keputusan di dalamnya.
Guna merespons kritik menyangkut kegagalan IMF di Asia, Rusia, dan Amerika Latin, program bantuan IMF pada masa depan tidak lagi dikaitkan dengan persyaratan-persyaratan yang justru telah memperparah krisis di negara-negara yang dibantunya. Ini dipastikan akan mengurangi antipati negara-negara berkembang terhadap IMF yang selama ini identik dengan arogansi AS dalam memaksakan rumus-rumus neoliberal dalam pembangunan di negara lain.
Sikap kooperatif pemerintahanmu juga ditunjukkan dalam kunjungan Hillary Clinton, Menlumu ke Asia Timur, di mana ia mengumumkan kesediaan negaramu untuk segera menandatangani Treaty of Amity and Cooperation dalam rangka akses yang lebih besar bagi keterlibatan AS dalam proses-proses regional di ASEAN dan Asia Timur. Fakta tentang kebangkitan China, isu nuklir Korea Utara, serta dinamika regionalisme yang melibatkan ASEAN, Jepang, dan Korea Selatan memerlukan kehadiran AS sebagai faktor penyeimbang di kawasan ini.
Mr. Obama,
Aku tak bermaksud menyanjungmu. Itu hanya sedikit berita yang beredar di berbagai media masa yang aku baca. Bagiku, semua itu adalah sebuah jalan baru bagi perubahan peradaban dunia. Namun, perlu aku ingatkan padamu, bahwa dulu Bush juga pernah berjanji seperti itu. Namun, janji tetaplah janji, ingkari janjipun sudah biasa. Bagiku, kalau dirimu jujur dan menepati janji berarti kau telah membuktikan kalau kau memang benar-benar “Anak Menteng” yang cerdas dan menghargai jasa dan keberadaan bangsa dan negara lain. Dan itu adalah salah satu bukti penghargaanmu terhadap Indonesia, sebuah negara di mana dirimu pernah menuntut ilmu. Ingat, kalau kau belajar “nakal” seperti ingkar janji, maka akan kutitip pesan ke SBY agar kau dikasih hukuman: putus sebagai sahabat. Persahabatan kita diakhiri sampai di sini.
Mr. Obama,
Karena itu jugalah melalui surat ini, aku tak lupa mengingatkan temanmu SBY agar berperan secara aktif. Aku mau mengusulkan agar SBY menunaikan politik yang aku sebut dengan Politik “Interaktif” Luar Negeri SBY. Bagiku, SBY adalah “Panglima” yang mesti menjadi juru bicara negaraku ketika bertemu denganmu. Walau Sejak terpilihnya sebagai Presiden negaraku–sejak tahun 2004 untuk periode 2004-2009 dan terpilih lagi tahun 2009 untuk periode 2009-2014–Indonesia menghadapi berbagai macam tantangan dan problematika, SBY adalah delegasiku dan delegasi negaraku untuk berbicara langsung denganmu. Walau banyak tantangan yang dihadapi, baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri; baik berupa bencana gempa, kirsuh sosial maupun kegentingan politik, semuanya adalah kondisi faktual yang pernah terjadi di negaraku. Dan tak mengapa bagimu untuk mengetahui itu. Bahkan mungkin dirimu lebih tahu tentang itu semua. Sebab menurut yang aku dengar, dirimu juga sudah tahu di mana keberadaan kekayaan alam Indonesia (berupa tambang); sampai di dasar laut pun kau sudah tahu. Makanya, jujur saja, aku sempat berpikiran kalau kau datang ke Indonesia bukan sekedar untuk bertemu SBY, tapi untuk melihat lebih dekat kekyaan yang boleh jadi sejak sekarang kau ”incar”. Kalau tidak benar, ya aku mohon maaf. Tapi kalau benar seperti itu, yah persahabatan bisa berakhir di sini. Dan jangan berharap teman-temanku yang lain tinggal diam, mereka bahkan diriku bisa melakukan perlawanan besar-besaran.
Mr. Obama,
Mungkin dirimu bertanya, lalu, bagaimana posisi dan peran Indonesia di masa kini dan di masa depan? Mengapa Indonesia dan bahkan publik dunia menitipkan semuanya kepada AS? Begini Mr. Obama, ini bukan menitip tanggungan. Yang aku sampaikan ini adalah pesan politik. Bahwa dulu Bush, pendahulumu itu banyak janji juga, namun ia ingkari semuanya dengan berbagai macam pelanggaran. Irak, Afganistan, Palestina dan berbagai negara di belahan bumi adalah bukti nyata. Aku tak mau bercerita banyak, karena kau lebih tahu tentang semua itu.
Lebih dari itu, aku ingin mengajakmu untuk melihat fakta sosial-politik Indonesia. Kini Indonesia dinahkodai oleh pemimpin baru, pasangan SBY-Boediono (2009-2014). Dalam kontek percaturan politik global yang terus kompetitif dan dinamis seperti sekarang ini, Indonesia memiliki hak untuk memformulasi agenda politiknya secara bijak. Dunia dengan karakteristik globalnya membawa Indonesia ke ruang terbuka politik global; baik yang berkonotasi positif maupun negatif secara politik. Artinya, integrasi dunia makin ketat dan kaitan antara satu negara dengan negara lain makin erat. Peristiwa di satu negara yang jauh, katakanlah di Afrika atau Amerika Latin, gemanya akan sampai ke Indonesia. Krisis ekonomi di Meksiko dan Argentina telah menjadi ancaman bagi banyak negara. Bahkan, krisis moneter di Thailand tahun 1997 membawa bencana bagi hampir semua negara di Asia Timur. Dan yang terakhir, serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat (AS) menggema kuat ke Indonesia. Nama Osama bin Laden telah akrab di telinga masyarakat.
Karakter global dunia kini, penekanannya tidak saja pada aspek ideologi atau militer, tetapi juga pada ancaman integrasi dan dampak ekonomi-politik. Bila pada pasca Perang Dunia II, ancaman global terlihat dari benturan ideologi komunis dan liberal, maka kemudian karakter globalnya terlihat dari penguasaan teritorial masing-masing kekuatan ideologi yang berhadapan. Pada abad ke-21 ini, ancaman keutuhan sebuah bangsa dan negara menjadi bahan pertaruhan.
Kini ekonomi kapitalis menjadi kekuatan yang tidak ada pengimbangnya. Tetapi akibat kekuatan ekonomi kapitalis dengan gagasan globalisasi, seperti halnya globalisasi ideologi komunis versus kapitalis, maka hampir semua negara memeluk kapitalis sebagai ide utama pembangunan negaranya. Akibatnya, industrialisasi menjadi tujuan hampir semua negara untuk memacu ekspornya ke pasar luar negeri, meski harus mengeruk kekayaan alamnya seperti di Indonesia.
Mr. Obama,
Dalam situasi di mana isu globalisasi mendapat tandingan dari kekuatan anti-globalisasi dan anti-kapitalisme, maka politik luar negeri Indonesia sebenarnya mendapatkan lingkungan internasional yang relatif baru namun strategis. Mengapa? Selain dengan orientasi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia juga bisa menegaskan dirinya sebagai sebuah bangsa besar yang mampu berdiri tegak di antara kelumpuhan sistem dan ideologi yang diayuh oleh Kapitalisme yang kau agungkan itu; bahkan Sosialisme yang diagungkan oleh negara-negara yang konon menjadi musuh negaramu itu. Indonesia dengan kekhasannya bisa menjadi alternatif bagi warna baru dinamika politik global tersebut. Nilai-nilai luhur mayoritas masyarakat negeri layak dijadikan sebagai mercesuar yang mengharuskan SBY sebagai “panglimaku” angkat bicara. Kalau SBY belum menemukan pernyataan yang tepat, aku harapkan agar SBY menyampaikan sesuatu kepadamu dengan pernyataan sebagai berikut:
“Hai Obama, hai Amerika! Kepemimpinan itu dipergilirkan, namun menjajah itu bukan kebijaksanaan. Perlu dirimu tahu ya Obama, kau pernah belajar di Menteng. Artinya, dirimu sangat tahu kalau dirimu menjadi presiden belajar dari Indonesia. Dan kini aku sudah terpilih menjadi presiden Indonesia yang kedua kalinya. Presiden sebuah negara di mana kau belajar dulu. Adalah wajar bagiku untuk mengajakmu berkelakar tentang perdamaian dan kebangkitan global. Lebih dari itu, aku ingin mengajakmu untuk makan bersama di Menteng dengan makanan khas berbagai daerah di Indonesia. Biar kau tahu, bahwa menjadi penguasa itu tak mesti menjajah. Tidak, tidak perlu. Ketahuilah, dirimu bahagia menjadi presiden bukan dengan kekayaan alam dari negara yang dijajah negerimu, bukan juga dengan mengoperasikan politik standar ganda. Cukup bagimu untuk merasakan kembali makanan khas Indonesia di Menteng sebagai simbol kesederhanaan. Selanjutnya, aku tak mau banyak bicara. Aku hanya ingin berkata seperti ini kepadamu: aku Muslim, aku Indonesia dan aku Asia. Bagiku, dirimu adalah tamu sekaligus murid bangsa ini. Artinya, aku menghormatimu sebagai tamu negara, namun aku punya hak dan kesempatan untuk mengajarimu sebuah kebijaksanaan. Kalau mau tetap memimpin dunia itu bukan soal, namun itu cerita masa lalu Amerika Serikat, negerimu. Sebagai “murid” sekaligus “warga” menteng yang baik, kau layak mendengarkan apa yang aku sampaikan ini. Aku ingin mengatakan dengan tulus bahwa kini adalah saatnya bagiku, bagi bangsaku Indonesia untuk membawa dunia ke tatanan yang adil dan berperadaban. Kalau dirimu ingin terlibat, silahkan masuk di barisanku; dengan syarat aku yang berada di depan sebagai pemimpin dunia. Atau kalau kau tidak mau, tak mengapa. Karena aku tahu kalau sekarang adalah giliranku memimpin dunia. Sebab bagiku, memimpin itu bukan sekedar kemauan tapi juga bakat dan firasat. Dan aku merasa kalau negaraku memiliki bakat dan firasat yang kuat untuk memimpin. Lagi-lagi, negaraku sangat layak dan memang sudah saatnya untuk menunaikan hal itu secara jujur nan tulus. Oke!”
Mr. Obama,
Sinyal-sinyal ”bersahabat” dari pemerintahanmu telah meretas jalan bagi penurunan ketegangan internasional yang dipicu sikap antidialog dari pemerintahan Bush, pendahulumu yang “kejam” itu. Ini selaras dengan kebutuhan mendesak akan suatu kepemimpinan global yang diterima luas masyarakat internasional dalam rangka memecahkan beragam persoalan lintas negara, seperti ancaman kemanan yang sering kau sebut sebagai terorisme itu. Selain itu, ada perubahan iklim kemudian resesi global.
Sementara itu, invasi militer Bush pendahulumu di Irak dan Afganistan menyisakan persoalan yang pelik bagimu. Keinginanmu untuk mengurangi kehadiran pasukan AS di Irak harus diaplikasikan dengan hati-hati. Kondisi rawan konflik, rapuhnya institusi demokrasi, dan perimbangan kekuatan yang labil di lapangan menyebabkan kehadiran pasukan AS sebagai stabilizing factor masih dibutuhkan di Irak dalam beberapa tahun ke depan. Tapi perlu kau catat, bahwa kehadiran pasukanmu bukan untuk merusak tatanan di sana. Karena bisa jadi itu menambah beban dan masalah. Bahkan kau akan berhadapan langsung dengan negara-negara muslim dunia, termasuk aku sahabatmu.
Dalam kasus Afganistan, kau telah mengumumkan suatu strategi baru, termasuk penambahan jumlah pasukan. Alih-alih memaksakan penegakan demokrasi di Afganistan, strategi ini ditujukan untuk mempertajam prioritas pada perang melawan terorisme dan menopang stabilitas. Ini terlalu gawat. Dirimu tidak perlu menambah pasukan, cukup berhentikan semua ketidakadilan yang pendahulumu tunaikan. Cukup, dan tak perlu membuat masalah baru.
Mr. Obama,
Obama, di tengah suramnya ekonomi negaramu kini, pesan penting di balik pendekatanmu yang persuasif dan dialogis dalam politik global adalah keinginanmu untuk mengatasi berbagai beban dalam menegakkan tata ekonomi dan politik internasional yang lebih kondusif bagi semua pihak. Betul pendekatan ini sulit disangkal telah menumbuhkan citra baru negaramu sebagai kekuatan yang konon lebih ramah, demokratis, dan manusiawi. Namun percayalah padaku, bahwa jika itu hanya pemanis politik dikdaya, maka cukup bagiku untuk mengatakan: dirimu dan Bush sama saja; sama-sama “tuli”. Dan ini adalah pertanda bahwa aku dan dirimu bersahabat cukup sampai di sini saja.
Mr. Obama,
Bagi sebagian pengamat di negaraku mengatakan bahwa bagi AS, penempatan Asia (transpacific) sebagai partner utama, sejajar dengan Eropa (transatlantic). Hal itu didasari pada kenyataan geografis bahwa wilayah teritorial AS mencakup kawasan Pasifik (pantai barat) dan kawasan Atlantik (pantai timur). Secara geopolitis, AS merupakan juga sebagai kekuatan transatlantic dan transpacific. Namun, di pihak lain, sebagaimana diakui Menlumu Hillary Clinton ketika kunjungan ke Indonesia tahun lalu, kalau AS sadar sepenuhnya bahwa AS sendiri tidak akan dapat memecahkan persoalan-persoalan dunia, sebaliknya masyarakat dunia juga tidak akan dapat memecahkan persoalan dunia itu tanpa keterlibatan negaramu itu.
Khusus mengenai Indonesia, Menlumu Hillary menyebut Indonesia sebagai salah satu bangsa dan negara yang paling dinamis di kawasan Asia. Selanjutnya, dia menghargai usaha-usaha dan aspirasi warga Indonesia dalam mewujudkan sistem pemilu yang bebas dan adil, pers yang bebas, serta peningkatan peranan masyarakat madani dan kaum wanita dalam pemerintahan. Negaramu menyambut baik ide dari Indonesia untuk menciptakan kemitraan yang lebih luas dan dalam. AS, menurut Hillary, tetap mendukung kerja sama dengan Indonesia dalam mewujudkan kemitraan itu dalam suatu agenda yang konkret.
Lalu? Sekarang terpulang kepada aku, SBY dan seluruh rakyat negaraku, apakah sudah siap dengan agenda-agenda yang konkret untuk mengisi dan meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-AS, khususnya dalam menyambut dan menyikapi kedatanganmu itu? Biarkan SBY yang menjawabnya. Yang jelas, aku memiliki pandangan bahwa membangun formulasi baru adalah penting. Mengutip pernyataan mantan Menluku, Nur Hassan Wirajuda (Republika, 7/2/2009) bahwa “hubungan bilateral itu lebih baik dilakukan dalam kemitraan yang komprehensif”, dan aku sepakat dengan gagasan itu.
Mr. Obama,
Sebelum dirimu mengajukan agenda yang konkret, sebaiknya aku perlu memetakan dahulu potensi dan kekuatan negaraku, baik secara alami maupun hasil-hasil dari usaha yang telah dicapai. Secara geografis, letak Indonesia cukup strategis karena terletak di antara dua benua dan dua samudra. Selain itu, Indonesia memiliki alur laut pelayaran internasional, yakni Selat Malaka dan Selat Makasar. Secara demografis dan ekonomis, Indonesia juga memiliki penduduk keempat terbanyak di dunia yang merupakan potensi pasar yang signifikan karena memiliki sumber daya alam (SDA) berupa bahan-bahan tambang dan hutan begitu banyaknya. Secara politis, Indonesia merupakan negara demokrasi ketiga terbesar dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Adapun capaian-capaian yang telah kita miliki baik dari segi ekonomi, politik, maupun keamanan cukup lumayan serta penting bagi negara-negara mitra, terutama Amerika Serikat, neragamu.
Bagi AS [negaramu], Indonesia [negaraku] dengan penduduk Muslim terbesar dan telah menerapkan sistem demokrasi, dapat dijadikan contoh dalam menyebarkan paham dan sistem demokrasi ke negara-negara berkembang lainnya, termasuk negara-negara di Timur Tengah. Walaupun demokrasi yang negaramu pahami dan aplikasikan belum menemukan titik terangnya. Karena memang tak akan menemukan titik terang.
Lebih dari itu, dengan potensi SDA yang melimpah, Indonesia jelas dapat dijadikan lahan bagi ekspansi ekonomi negaramu, baik berupa usaha pertambangan maupun pemasaran produk-produk dan jasa. Begitupun, capaian di bidang politik atau keamanan domestik dan kawasan, telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang tepat dijadikan partner dalam menciptakan dan memelihara stabilitas politik serta keamanan kawasan, khususnya Asia Tenggara.
Dengan memetakan potensi dan capaian-capaian serta menyadari posisi dan peranan negaraku vis a vis terhadap AS, aku dan negaraku, Indonesia dapat memanfaatkan kunjunganmu dengan membuat kesepakatan (agenda) yang konkret. Dan sudah tentu kesepakatan tersebut adalah kesepakatan yang bermanfaat bagi posisi dan peran strategis Indonesia dalam kancah percaturan global, baik sekarang maupun akan datang. Lebih dari itu, aku perlu sampaikan padamu bahwa Jakarta takkan pernah mau dan takkan mudah “terakali” oleh Washington dengan berbagai macam bentuk “adegan diplomasi” sebagai pemanis.
Mr. Obama,
Selanjutnya, aku berharap semoga SBY berhasil memanfaatkan kunjunganmu itu untuk mencapai kesepakatan dasar sebagai komponen penting dan utama dunia dalam kemitraan yang komprehensif dan strategis. Selanjutnya, SBY diharapkan untuk menegaskan posisi tawar Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia dalam mengambil arah baru politik dan tongkat kepemimpinan global secara “jantan”. Dan aku dan teman-temanku sebangsa dan setanah air sudah menitipkan semua itu pada SBY. Semoga SBY, sahabtku dan sahabatmu juga bisa menunaikan semuanya secara elegan. Oke.
Mr. Obama,
Mungkin itu yang bisa aku sampaikan untukmu. Kalau tanggal 23 Maret 2010 kau benar-benar datang bertamu ke Indonesia, atau mungkin bulan Juni 2010, aku ingin menyampaikan banyak pesan. Salah satu yang pesan istimewa yang ingin aku sampaikan untukmu adalah mengenai kehidupan jangka panjang. Aku ingin agar dirimu dimasukkan oleh Allah ke dalam surga-Nya yang telah disediakan bagi mereka yang beriman. Itu juga kalau kau mau, syaratnya: kau mesti mengikuti keyakinanku dengan cara berislam. Aku tak sedikitpun memaksa dirimu. Sekali lagi, itu kalau kau mau. Karena kau sendiri memiliki keyakinan sendiri, dan akupun memiliki keyakinan sendiri. Semoga kita saling memahami tentang masing-masing apa yang aku dan dirimu yakini. Dengan catatan, tolong hentikan keberingasan pasukanmu terhadap saudara-saudaraku yang juga saudara-saudaramu di berbagai belahan bumi, terutama di negara-negara muslim. Persahabatan tidak hanya di mulut, tapi mesti juga menjadi kebijakan politik. Walaupun aku percaya bahwa semua kekejian itu bukan karyamu, tapi hasil kerja Bush, pendahulumu.
Mr. Obama,
Aku sudah sediakan bagimu naskah buku Merekayasa Masa Depan: Sebuah Refleksi Untuk Aksi. Kalau kau mau naskahnya, atau mau berdialog denganku, silahkan datang saja ke Jl. Ahmad Yani No. 873 Kota Bandung Jawa Barat, Indonesia. Aku dan teman-temanku siap berdialog denganmu secara intelektual. Tapi aku hanya menyediakan bagimu bakso yang akan kubeli di Warung bakso Padasuka, kemudian es kelapa seadanya. Atau kalau kau mau buku bacaan, aku sudah menyediakan untukmu. Ada buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Identitas Politik Umat Islam; keduanya adalah karya Kuntowijoyo. Al-Islam 1 dan 2 karya Said Hawa, Fiqih Dakwah karya Mushthafa Masyhur, Wajah Peradaban Barat karya Dr. Adian Husaini, Saksikan Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah, Aku Anak Matahari karya Gola Gong, Model Manusia Muslim dan Delapan Mata Air Kecemerlangan, dua-duanya karya Anis Matta, Menyiapkan Momentum karya Rijalul Imam dan Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara. Atau kalau kau ingin tahu tentang Islam, dien (agama) yang kujadikan sebagai standar yang mengatur dan mengarahkan kehidupanku dan saudara-saudaraku, aku sudah menyediakan bagimu sebuah mushaf Al-Qur’an. Minimal untuk kau baca, biar Islam yang aku yakini bisa kau jadikan sebagai bahan pembanding bagimu. Agar teman-temanmu di Amerika atau di manapun mereka berada tidak seenaknya menjelek-jelekan Islam, padahal mereka bodoh dan tidak tau apa-apa.
Oh iya, supaya dirimu tahu, aku aktif di organisasi kemahasiswaan, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang saat ini diketuai oleh Mr. Rijalul Imam, S.Hum., M.Si. Kalau boleh mengusulkan, kau layak bertemu dengan beliau dan saudara-saudaraku di KAMMI. Karena beliau dan mereka memiliki kompetensi untuk berbicara denganmu, terutama dalam meretas peradaban global yang lebih anggun. Namun, kalau kau tidak berkesempatan, cukup sudah dengan SBY saja. Lebih lanjut, kalau ada yang demonstrasi itu bukan bermaksud tidak menghargai kedatanganmu. Itu adalah bukti kekesalan yang sudah lama ditahan dan terpendam; terutama ketika Bush yang “dungu” itu tak mengerti bahasa manusia.
Namun percayalah, aku dan saudara-saudaraku tetap menghargaimu. Lebih-lebih jika kau segera memberhentikan kebijakan berstandar ganda kepada negara-negara muslim di berbagai belahan dunia. Sekali lagi, aku tetap menghargaimu sebagai tamu. Sebagaimana pendahuluku mengajariku. Mengapa? Karena agamaku mengajarkiku begitu. Aku belajar dari Nabi Muhammad, para sahabat, generasi pengikut yang taat, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Mohammad Al-Fatih, Hasan Al-Banna dan Mohammad Natsir. Tenang aja, kalau kau jadi datang, akan kusediakan bagimu makanan khas Indonesia. Mau khas Padang, khas Sunda, khas Jawa, khas Lombok, khas Makasar atau khas Menteng tempat kau sempat tinggal dulu? Silahkan pilih atau pesan sendiri dari sekarang. Nanti aku beliin. Atau batik dan kaos KAMMI. Atau mau main kunci KAMMI. Bagaimana, mau? Kalau kau mau, nanti aku sediakan dari sekarang. Mumpung aku lagi gajian. Kalau kau tidak mesan dari sekarang, aku kesulitan. Bukan karena tidak ada uang, tapi karena persediaan barang yang tidak terpenuhi. Selain itu, aku juga berharap agar buku-buku karyaku kelak bisa kau baca. Bahkan dirimu menjadi pembanding ketika aku membedah buku-bukuku di Amerika Serikat. Mungkin sekarang belum terjangkau, namun percayalah 10 atau 15 ke depan aku akan tunaikan semuanya.
Mr. Obama,
Selamat datang di Indonesia. Negeri yang menjadi saksi kesaksianmu kelak sebagai seorang muslim, insya Allah. Itu kalau kau mau. Karena aku masih memiliki keyakinan bahwa keyakinanku adalah keyakinanku, dan keyakinanmu adalah keyakinanmu. Oke Mr. Obama. Sementara cukup dulu. Kalau ada kesempatan lain, kita akan lanjutkan; sehingga dialog kita berlanjut sampai pada titik terang. []
Jl. Ahmad Yani No. 873 Kota Bandung
Juma’at/19 Maret 2010, Pukul 00.05-04.47 WIB
Catatan:
Ini adalah surat terbuka saya untuk Barack Obama, Presiden Amerika Serikat yang akan berkunjung ke Jakarta, Indonesia pada Selasa/23 Maret 2010. Karena berbagai macam alasan, lawatan tersebut akhirnya diundur bulan Juni 2010. Walau demikian, tulisan ini layak dipublikasikan ke ruang publik. Selain sebagai upaya melanjutkan interupsi atas kebijakan politik ”berstandar ganda” Amerika Serikat selama ini, juga (terutama) sebagai upaya membangun upaya membangun dialog secara cerdas dengan Mr. Obama. Dan saya percaya SBY bisa menjadikan tulisan ini sebagai bahan dialog dengan Mr. Obama. Semoga!
perkenalkan saya enggar mahasiswi upn jurusan HI Yogyakarta, mohon bantuan dengan sangat, saat ini saya sedang mengulas tentang peran Indonesia dalam mediasi konflik Thailand Selatan tahun 2008 lalu. saya kesulitan untuk mencari apa sebenarnya kepentingan Indonesia dalam proses mediasi itu, besar harapan saya untuk menerima balasan anda berupa bantuan data tersebut… terimakasih
Yang konflik Pattani itu bukan? Yang wapres Jusuf Kalla jadi mediator itu? Yang di istana bogor itu?
(weleh..weleh..kok ya malah balik nanya ^_^)
Kalu yang itu mungkin saja karena Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia.