SMS Teror
Oleh : Mey Liza
Kulirik jam yang tergantung di dinding sekre Rohis. Sudah lima belas menit berlalu sejak Eci memulai ceritanya pada kami, Bekeners.
“Gitu ceritanya, terus ana musti gimana?” Eci mengedarkan pandangan pada kami meminta jawaban.
“Mmm….,” Kay mulai membuka suara.
“Baiknya sih kita tabayun dulu sama mereka. Ya kan?” Kay meminta persetujuan dari kami.
Tak ada yang bersuara hanya dijawab dengan anggukan dariku, Lila, Isna, Tulip, Eda, dan Sinta.
Eci, akhwat yang baru semester ini bergabung di Rohis. Eci dan beberapa kawannya membuat semacam tempat bimbel gitu. Mereka cuma pengelola, bukan yang mengajar. Keren ya, kecil-kecil otak bisnis mereka udah tokcer. Menurut pengakuannya tadi banyak siswa-siswa sekolah kami yang mendaftar. Bagus bukan?
Masalahnya banyak pula yang cuma main-main. Kan nomor hape Eci yang di cantumin di pamflet, nah dari situ banyak deh yang suka iseng pura-pura daftar eh tahunya cuma mainin Eci doang.
Dan, fakta yang bikin miris, sebagian besar yang sms iseng itu adalah ikhwan-ikhwan pengurus Rohis!!
“APAH?!!” Itu reaksi kami tadi saat Eci curhat.
Sebel banget kan. Pengen sih ngajakin Lila yang jago taekwondo buat ngehajar mereka satu persatu. Biar kapok semuanya.
Sejujurnya kami ga’ tahu musti berbuat apa. Karena pada dasarnya ikhwan-ikhwan jahil yang iseng itu *dan-yang-tak-perlu-ku-sebut-nama-nya-itu* sudah tahu kalau perilaku-perilaku tak sopan seperti ini bukanlah perbuatan baik dan pantas untuk dilakukan. Jadi mereka bukan orang bodoh yang ga’ ngerti apapun, yang harus dikasih tahu satu persatu mana hal yang baik dan mana hal yang buruk.
“Gini aja, Ci, mending sekarang lu balik deh biar kita-kita yang nyelesain masalah ini.” Isna memecah keheningan.
“Bener, Ukh, langkah pertama kita mau kasih tahu Pak Ridwan dulu. Biar Pak Ridwan dan ikhwan yang lain yang tabayun ke mereka yang ngerjain kamu itu.” Eda menambahkan.
Pak Ridwan guru Kimia di sekolah kami yang juga adalah Pembina Rohis.
“Iya, ana rasa segitu udah bagus. Syukron ukh bantuannya. Ana cuma pingin masalah ini kelar dan ga’ ada lagi ikhwn-ikhwan iseng di Rohis kita.”
“Sepakataaaaaaaaaat!!” Sinta dan Tulip berteriak serempak.
Setelah cipika-cipiki dan mengucap salam Eci pamit.
Belum lagi persoalan internal kelar, muncul lagi masalah-masalah ga’ penting kaya ini. Bikin puyeng aja.
“Yuk ke rumah Pak Ridwan.” Ajak Kay.
“Eh-eh, lu pada aja ya. Gua mau pulang ngerjain pe-er.” Sambil nyengir Isna meminta ijin pada kami.
“Iya..iya tahu, karena tar malem mau nonton bola kan?” Aku menatap Isna.
“Hehehe..pinter. Iya nih tar sore Belanda lawan Denmark, sayang banget dilewatin!”
“Dasar maniak bola!!” Berbarengan tangan kami mencoba meraih kepala Isna buat dijitak.
Untung cuma satu yang model begini, bisa berabe kalau semua Bekeners maniak bola. Yah namanya hobi, setiap orang punya kecendrungan masing-masing yang berbeda.
Luv u all gals. Tetap ingin bersahabat dengan kalian, selalu, walau kita banyak perbedaan.

hehehe….
gokil sob carpennya….
saya tunggu kelanjutannya…
salam kenal..
hehehe thanks,
salam kenal juga ^_^