Pesimis
Oleh : Mey Liza
Liburan telah usai. Kami kembali ke sekolah, dengan kelas baru dan suasana baru. Begitu juga Rohis yang bersiap mendapat suasana baru di bawah kepengurusan yang baru. Masa amanah kami, yang dikomandoi Revan, telah usai. Saatnya yang baru yang tampil memimpin.
“Kira-kira siapa ya yang cocok ngegantiin Revan?” Tanya Kay pada kami berenam.
“Hazar, Arya, Dida, mmm…siapa lagi ya? Lulu bersuara.
Kami bertujuh (Kay, Lulu, Isna, Sinta, Eda, Tulip, dan aku) sedang berkumpul di rumah Kay. Sore ini kami mencoba ngumpulin seluruh akhwat-akhwat Rohis. Tentu saja mau ngebahas Muktamar Rohis. Yang lain belum nampak ujung jilbabnya, entah mereka memang telat atau sengaja tidak mau datang.
“Huff…kok aku jadi pesimis ya.” Ungkapku pada mereka.
“Aku ga’ yakin tentang nasib Rohis kedepan.” Aku memandang mereka satu persatu.
“Sama, gua juga pesimis.” Isna menatap lurus ke arah lukisan bunga Lili yang tergantung di dinding.
“Ukhti, kita ga’ boleh pesimis gitu geh. Harus optimis. Kita harus yakin Rohis ke depan akan baik-baik saja. Oke?” Sinta mencoba menyemangati kami.
“Iya, kita harus optimis Rohis akan baik-baik saja. Makanya kita harus menyiapkan Muktamar dengan sebaik-baiknya.” Eda tak mau ketinggalan.
“Tapi, jujur nih, dari calon yang ada aku jadi ikit pesimis.” Tulip memandang Eda.
“Hush! Udah ah ga’ boleh under estimate gitu. Kita harus yakin dong dengan calon-calon ketua kedepan. Kita harus yakin kalau mereka mampu berbuat yang terbaik untuk dakwah ini. Iya kan?” Kay meminta persetujuan dari kami.
“Betul apa yang di katakan oleh Kay, toh kepengurusan ke depan kan bukan kepengurusan personal alias sendiri-sendiri. Ini amal jama’i ukh.” Lulu memegang pundakku dan pundak Isna.
Apa iya semua yang di katakan oleh Kay dan Lulu itu? Aku masih tetap pesimis. Aku…aku ga’ yakin semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Astaghfirullah, cepat-cepat aku beristighfar. Apaan aku ini. Sekarang bukan saatnya menilai mampu atau tidaknya calon ketua ke depan membuat Rohis bangkit lagi. Tapi sekarang saatnya untuk memulai kebangkitan itu. Benar, harus yakin pada kekuatan kami semua karena kami tak pernah sendiri. Ada Dia yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Apapun masih bisa terjadi, apapun itu.
Jadi harus tetap semangat, ganbatte!!

mantap,,salam hangat..makasih banyak infonya,,ditunggu kunjungannya…
Yoi
[...] Cerpen selengkapnya: Cerpen ” Anggaplah Ini Cerpen bag.5 [...]
?
MAntap dah,salam kenal dari komisariat Sidoarjo
salam kenal
terimakasih ata kunjungannya