Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen Bag.6

Posted: July 28, 2010 by meyzahra in Celoteh Humas

Untuk Akhir Yang Sempurna

Oleh : Yani Supriani dan Mey Liza

Baru jam 8 tapi suasana kelas sudah gaduh. Pak Ginanjar sakit dan kami ditugasi menyelesaikan beberapa soal. Ada yang serius ngerjain, ada yang kerja kelompok alias nyontek ke Ali si juara umum, ada yang cuma ngobrol ga’ puguh. Dari dulu aku tak begitu pandai dalam urusan ngotak-ngatik rumus Fisika. Dari lima soal baru satu yang berhasil ku taklukkan. Payah!

“Udah, Kay?” Tanyaku pada Kay yang duduk di sebelah.
“Emm.” Kay hanya menjawab dengan gumam tak jelas.

Gini nih si Kay kalau sudah serius udah kaya di dunia lain saja.
Tipe pemikir yang serius, cocok sama aku yang super sensi. Makanya tak jarang pemikiran kami selalu sama. Contohnya kemarin sore.
Kemarin di hadapan bekeners yang lain Kay dan aku mengutarakan niat untuk menyudahi amanah kami di Rohis. Harusnya Sabtu-Ahad ini Rohis Muktamar. Tapi semuanya batal. Muktamar diundur hingga Oktober dan itu berarti masa kepengurusan kami yang harusnya sudah berakhir jadi di perpanjang. Alasannya karena ingin menunggu pemilihan Ketua OSIS yang baru. Kata “mereka” setelah tahu siapa yang jadi Ketua OSIS baru Rohis bisa menyusun strategi kedepan. Yah, agar semua berjalan lancar. Begitu.

“Dengan kondisi kita yang sekarang sudah seharusnya untuk segeraMuktamar!” Tegas Kay pada kami.

“Setuju. Kita tahu kan internal Rohis lagi ada masalah. Harusnya kita selesaikan masalah internal baru berfikir masalah eksternal.” Ucapku kemudian.

“Yaa tapi ga’ harus sampai mengundurkan diri seperti ini kan?” Lulu menatap aku dan Kay. Karena memang baru kami berdua yang berniat mundur dari kepengurusan.

“Gua juga ga’ asal mutusin kali. Semuanya sudah dipertimbangkan dengan matang. Dengan kondisi kita yang carut marut begini memperpanjang kepengurusan malah akan menjadi beban. Harusnya kita segera Muktamar. Dengan begitu komposisi yang ada sekarang bisa di rombak total. Juga bisa memasukkan kader-kader baru yang fresh dan berkualitas untuk menempati pos-pos strategis di Rohis. Untuk menjalankan sebuah organisasi tidaklah dibutuhkan terlalu banyak orang. Namun yang dibutuhkan adalah pengurus-pengurus yang kompeten dan berkomitmen.” Kami berenam terdiam mendengarkan penjelasan Kay.

“Sebenarnya aku sempat memikirkan apa yang tadi Kay ucapkan. Kondisi kita yang sudah seperti ini sangat susah kalau mau dipaksakkan hingga Oktober. Tapi menurutku keputusan untuk keluar dari Rohis juga bukan sebuah solusi.” Dengan tenang Eda berpendapat.

“Baiknya kita berfikir lagi tentang Rohis. Terutama lu dan Zahra, Kay. Gua sependapat dengan Eda kayanya keluar dari Rohis bukan sebuah solusi.” Kali ini Isna yang angkat bicara.

“Iya gua dan Zahra tahu maksud kalian. Tapi kita berdua menyatakan diri hendak keluar karena sudah tak lagi merasa punya andil disini. Walau akhir-akhir ini Rohis bermasalah di Infokom sendiri semuanya baik-baik saja. Kami berempat sudah berusaha sekuat tenaga menjalankan amanah ini. Tapi tidak untuk 3 bulan lagi. Kita tidak bisa berjalan dnegan sisa-sisa energi. Percuma kalau mau dipaksakan hasilnyapun tidak akan optimal.” Terdengar getar halus di nada suara Kay. Pasti dia sedang menahan emosi agar tidak sampai meneteskan air mata.

“Daripada ga’ amanah mending pamit baik-baik, betul kan?” Aku meminta persetujuan dari Lulu, Isna, Eda, Sinta dan Tulip. Mereka berlima hanya saling pandang lalu menatap aku dan Kay dengan sorot kebingungan. Aku tahu mereka agak shock mendengar ini, tapi menurut aku dan Kay ini adalah jalan terbaik untuk akhir yang sempurna.

“Ayo semua buruan dikumpulin!” Suara Comit membuyarkan lamunanku.
HAH?! Oh tidak aku belum selesai mengerjakan soal tadi.

“Makanya jangan kebanyakan ngelamun.” Sambil tersenyum iseng Kay meledekku.
“Udah kumpulin aja, paling dapat hukuman ngebersihin kamar mandi lagi. Hahahahaha.” Malah Ketua Infokom Rohis ini mentertawaiku.

“Udah semua?” Comit ketua kelas bertanya.
“Belum, Akh. Nih satu lagi.” Kay menunjuk kearahku.
“Bentar..bentar, lima menit lagi ya.” Tergesa-gesa aku mencoba menjawab sebisanya. Nasib..nasib!

Comments
  1. [...] Baca Detail Cerpen: Cerpen : Anggaplah Ini Cerpen Bag.6 « KAMMI Banten's Blog [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s